NYAWA SANTRI KETIKA MAKNAI KITAB






Menjelang Waktu sore, merupakan salah satu waktu ngaos online yang paling saya sukai. Dengan durasi waktu tidak lama dan tidak sebentar, (satu jam ) penggelaran ngaos online yang saya adakan di ruang utama, dapat mengundang minat penghuni rumah untuk ikut menyimak penjelasan dari salah satu ustad saya dulu. 

Selama pandemi, saya tidak banyak mengikut ngaos online seperti yang sudah ditawarkan lewat media dari berbagai pesantren salaf ataupun pesantren modern. Dalam sehari hanya ada dua waktu yang rutin saya ikuti yakni dengan mengikuti channel youtube Syafiq Al Chadziq , milik beliau Ustad Laist Atsir yang kerap disapa Pak Laist atau Mas Yai oleh teman-teman santri dulu ketika di pesantren.

Menginjak pukul 16.00 WIB lebih sedikit, saya mulai membuka kitab Taisirul kholaq yang usianya sudah delapan tahun berada dalam tumpukan kitab saya. Dengan cover kitab berwarna biru muda beradu dengan warna ungu tua dan merah muda membuat saya  lamat-lamat mengamati setiap goresan tinta pada lembarnya. Dengan memendamkan rasa gawok terhadap kitab tersebut, tiba-tiba saja leher saya mengikuti arah kepala untuk menggelengkannya.  

Pada sampul pertama, judul dari kitab ini didesain menggunakan kaligrafi khat tsuluts. Dengan isi bab sejumlah tiga puluh lebih tiga sekaligus muqadimah, kertas putih tersebut penuh dengan model makna dari saya yang ukuran tulisannya hampir sebesar huruf hijaiyah yang diajaran para Kyai kampung di surau-surau desa. Kitab yang saya miliki ini hanya berukuran satu setengah kilan dikali satu kilan telapak tangan. Saya mendapatkannya ketika saya masih duduk di bangku kelas 7 Tsanawiyah jelas bukan dapat Give Away atau hibahan dari orang lain, namun saya  membelinya di kopsis (koperasi siswa) milik pesantren dengan bekal kesadaran bahwa besok pagi utuk-utuk kitabnya harus dibawa ngaji wekton.

Dengan maknaan yang disponsori oleh bolpoint pilot 2000-an, bolpoint faster tidak sering juga menggunakan bolpoint standart. Menjadikan kitab saya dihiasi oleh tinta-tinta bolpoint yang berbeda-beda. Saat itu saya belum terlalu jauh mengenal perihal bolpoint HI-TEC-C atau bolpoint HI-TEC-H yang sudah mashur di kalangan santri. Saya hanya memahami bahwa harga dari kedua bolpoint tersebut khususnya bolpoint HI-TEC-C lebih tinggi dari pada perjuangan santri saat ndesel kantin Al-Barokah.

 Mengapa demikian? Dikarenakan, selain ujung bolpoint lebih runcing dari pada lidi yang disisir rapi, bolpoint tersebut memiliki kharisma tersendiri dalam mengiringi peran santri ketika mulai memaknai kitab.“Nyawa santri terletak pada sebuah bolpen HI-TEC-C”, kalimat tesebut sudah maklum bagi para santri. Bukan untuk promosi, membela atau sebaliknya terhadap produk PILOT. Namun, saat ini saya hanya melihat dari kaca mata fisik yang terdapat pada bolpoint HI-TEC-C dengan peran santri pada jaman dahulu. Bolpoint tersebut dapat menyeimbangkan tulisan santri supaya tidak terlalu memenuhi kitab.

 Jika dilihat dalam segi harga, bolpoint ini sangat berani menawarkan harga jual tinggi kepada santri yang rata-rata berkaum kumaskan (kurang pemasukan) yang hanya bisa merasakan kejayaan ketika dirinya atau santri lainnya mendapat pangilan sambangan dari kantor pengurus. Kemudian harga diri sebuah bolpoint HI-TEC-C memiliki tingkat kesamaan dengan nyawa seorang santri. Ibarat ini tentu bukan persoalan rendahnya harga diri santri. Jelas bukan polpolan

Namun, dengan harga bolpoint sekisar 20.000-an ke atas, dapat menjadikan suatu bentuk pengorbanan santri untuk mendapatkan sebuah ilmu, itu ndak gampang. Tulisan lebih runcinglah dan lebih sedap dipandang, jika tidak didasari rasa tawadu’ sebagai santri ya sama saja. Sekali mengalami luka pada ujung intinya bisa-bisa menyandang RIP selamanya.

Sekali lagi, kawulo piyambak mboten promosi soal bolpoint tersebut. Jelas hal ini bukan masalah bolpoint yang dapat mempengaruhi semangat belajar santri, namun hanya menyenggol sedikit soal makna saya yang kegedean, yang tentunya akan merembet pada  bolpointnya sama jari-jarinya bahkan sama orangnya. Sudah kapan-kapan saja. 

Ngaos online atau biasa disebut dengan ngaji online mulai dilakukan para Kyai dan Ustad-Ustad pesantren setelah pandemi ini resmi menjajah tanah air. Pada muqodimah dalam kitab tersebut, beliau ustad Laist Atsir menjelaskan bahwa setiap mualif kitab atau mushonif kitab, ketika akan menyusun kitab selalu diawali dengan membaca basmallah, dengan tujuan untuk patuh terhadap Al-Qur’an dan patuh kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Seperti dawuh Nabi Muhammad saw  “ setiap perkara yang baik jika tidak diawali dengan basmallah maka perkara tersebut kurang barokah”

 Kemudian, beliau juga menjelaskan bahwa kitab Taisirul Kholaq merupakan salah satu kitab yang membahas tentang akhlak addiniyah dengan bahasa yang ringkas dan dikarang untuk para pemula yang baru belajar. Namun, saya rasa kitab ini perlu diulang oleh pribadi-pribadi yang sering lalai seperti saya. Dengan tujuan supaya akhlak yang baik dapat menghiasi diri kita masing-masing.

Penjabaran di atas hanya sebagai pembukaan guna untuk menepati janji saya sendiri pada awal bulan ini. Selebihnya silakan membaca tulisan saya setelah ini.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Koncoku guyon ngelempar pulpen hitech nggonku 03 😪😪😥

    BalasHapus