Mereka Mempunyai Cara Sendiri untuk Berkomunikasi




Membahas tentang makhluk ghaib merupakan salah satu hobby saya sejak kecil. Setelah peristiwa yang menimpa saya enam tahun lalu di pesantren, saat itulah saya mulai bersahabat dengan malam. Saat itu juga, saya mulai penasaran dengan kehidupan makhluk halus.

Apa iya kalo malam-malam begini mereka juga sama seperti saya? merendam mie di baskom, membuat kopi di toples, kalo ndak gitu ndesel kantin sampai dapat pentol seribuan. 

Sehingga, kegiatan apapun selalu saya sangkut pautkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Saat itu juga imajinasi saya terus berterbangan mengenai kemiripan saya dengan keluarga Kunti. 

Malam di pesantren merupakan waktu di mana para penjajah malam mulai melaksanakan aksinya, dikarenakan waktu itulah yang tepat untuk melakukan( ***** )belajar kitab, ngaji sampek khatam, atau dzikir sampek subuh.

Pada suatu malam di awal-awal saya mondok, terlihat di pojok Aula (tempat sholat santri putri) bagian depan, sesuatu yang membuat saya kagum dan menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah buntelan putih yang mengkurep menghadap ke barat dengan durasi waktu yang cukup lama, dari mie mentah sampai mie kumkuman ini menjadi mie mblotong, buntelannya kok ya ndak rampung-rampung leh jengking.

Tanpa diaba-aba, Wewek teman saya, langsung berlari mengintipnya. Sebelum Wewek mengintip, saya menyaksikan dari kejauhan buntelan itu ambruk ke arah samping. Wewek ngerem mendadak langkah kakinya, dan saya pun spontan mengucapkan “OTOKE” sambil menutup mulut dan bola mata yang saya bulatkan. Saya ikutan mengekor menghampiri Wewek sambil mengacungkan jempol. “Mbaknya sampek klenger”. Ucap Wewek dengan sedikit menahan tawa. Tiba-tiba saja Wewek terdiam dengan wajah tegangnya. “Kenopo Wek” tanya saya sedikit curiga. 
“Denger suara anak nangis ndak” ucapnya kemudian. Nah, firasat saya benar. Pasti sebentar lagi kalo ndak minta balik ke kamar langsung tidur, kalo ndak gitu dia udah lari duluan ninggalin saya.

Belum jadwalnya buu” jawab saya menenangkan. Padahal saat itu juga saya mendengar suara kelereng di lemparkan dan berserakan. 

“Maksudnya belum jadwalnya???” tanya Wewek dengan siap mengangkat rok untuk lari terlebih dahulu. 
“Ya iya lah sekarang masih jadwalnya suara kelereng berserakan bukan suara anak nangis”. Satu kedipan, Wewek sudah berlari menuju tempat kami tadi  sambil teriak,

“Ayo balek kamar”

 Saya memandang sekitar, sepi dan tidak ada suara satupun. Hanya saja, suara ngorok dari mbak-mbak yang ambruk tadi dan suara tangisan anak kecil “Asyemmmm tenan medine ki” batin saya sambil membereskan mie mblotong tadi.

Kejadian ini ndak hanya sekali atau dua kali saja. Bahkan kerep saya mendengar hal-hal aneh di pesantren. Mulai dari suara anak kecil menangis, suara ember berjatuhan, suara ketukan tongkat, suara kelereng berserakan hingga pada suatu malam saya dikejutkan dengan cerita teman-teman. Jika ada santri yang nyucinya malam-malam nanti bakal ditemani tangan atau kaki satu ketika di kamar mandi. Satu tegukan kopi membuat saya mengatur ketakutan. Kemudian santri yang ndak ikut kegiatan dan bersembunyi di kamar mandi akan ditemani dengan manusia tanpa tubuh. Kemudian santri yang mbobol bakal terkena serangan kepala. Ucap salah satu senior.

Serangan dari makhluk gaib juga mbak?” tanya Wewek dengan wajah pucat pasi. 
“ Dapat serangan dari keamananlah, kalo santri putra di gundul kalo santri putri pakek jilbab lima warna” terang senior dengan tertawa. Wewek mengela nafas panjang.

Setelah sekian banyak suara-suara aneh yang pernah saya dengar, untungnya saya ndak pernah melihat asli bagaimana rupawannya makhluk halus saat malam hari. Hanya saja cerita mistis selalu beredar sampai kapanpun. Seperti kisah Ningsih teman saya ketika berada di pesantren Solo. Awalnya kami hanya bercerita tentang peristiwa horor. Hingga merembet pada kisah pondok Ningsih dahulu yang kasusnya sudah diliput dibeberapa media. Bukan soal jumlah sandal yang dighosob melebihi dari jumlah santri, atau tentang jumlah santri yang ndak mandi gara-gara antrian penuh. Namun lagi-lagi soal  mistis.

 ........mabes polri cabang semarang menggelar olah tempat dikejadian perkara di asrama putra pon pes Darul Qur’an Wal Irsyad di Gunung Kidul Yogyakarta. Tim lapor didatangkan untuk mengungkap penyebab kebakaran asrama yang menyebabkan seorang santri tewas”
Dikabarkan pada akhir tahun 2016 peristiwa aneh itu muncul. Penyebab kebakaran tidak diketahui. Ada yang menduga bahwa api muncul bukan dari aliran listrik. Namun kebakaran ini disebabkan sesuatu yang berbau mistis.

Ningsih bercerita sambil sekali-kali menyeka air matanya. “ nangis Sih” tanya saya. “Seblakmu pedes tekan kene Jum”. Saya mencep sambil melanjutkan makan seblak. Ningsih melanjutkan ceritanya. Pada mulanya saat itu ada acara di pesantren Ningsih,  tepatnya di gedung kitab asrama putra. Setelah acara kegiatan, umumnya santri sudah ndak kuat nyonggo idep langsung lari nyari tempat tidur. Ada yang memutuskan tidur di serambi masjid, ada yang memutuskan tidur di kamar, ada juga yang tidur sambil jalan.

Saat itu ada salah satu santri yang memutuskan untuk mengisi perutnya. Sebut saja si Ujang. Dengan mengumpulkan beberapa ranting kayu,  si Ujang mulai memasak nasi goreng di luar kamar. Tiba-tiba saja Ujang merasakan suasana panas di salah satu  kamar di lantai dua gedung kitab. Hingga api muncul dan merembet satu gedung dan peristiwa itu memakan satu korban jiwa. Polisi ndak menemukan apa penyebab munculnya api. Polisi cek aliran listrik aman-aman saja. Apinya si Ujang juga ndak memicu kebakaran.  Kemudian muncullah istilah katanya-katanya. Bahwa api muncul gara-gara ada salah satu santri ketika lewat menjatuhkan dupa milik makhluk ghaib. Dimana saat itu makhluk ghaib sedang melakukan perayaan besar-besaran. Mungkin saja, para makhluk ghaib saat itu marah dan menyebarkan api di gedung tersebut.

Ningsih bilang kalo tangga gedung tersebut benar-benar sudah reyot. Kemungkinan yang dapat dipastikan para santri turun ke bawah ndak menggunakan tangga, namun terpaksa turun menggunakan paralon. Bisa dibayangkan mereka dikejar-kejar api melalui paralon tersebut. Hingga peristiwa ini viral di beberapa media sosial karena dengan jarak  waktu yang dekat, dapat dipastikan salah satu asrama atau salah satu kamar pasti ada kebakaran yang ndak diketahui penyebabnya

Peristiwa mistis seperti ini ndak jarang lagi terjadi di pesantren. Bukan hanya pesantren saja di manapun di wilayah baru pasti ada yang namanya penghuni jin. Terkadang mereka berlalu-kalang di hadapan kita, ndak karena mereka ingin dikenal, namun kita perlu tahu. Sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dari pada makhluk yang lain. Ndak usum namanya saling menyalahkan. Apalagi menyalahkan kepada selain makhluk. Opo yo wani lehhhh. Mereka mengganggu justru karena perbuatan kita yang ndak baik dapat memicu kemarahan mereka.  Barang ghaib itu pasti adanya dimanapun berada dan mereka mempunyai cara tersendiri bagaimana menyempaikan suatu pesan. Semakin iman kita lemah semakin kuat mereka menyatu dan menampakkan diri dihadapan kita.
Sebagai makhluk yang wajib mempercayai adanya makhluk astral untuk kalian silakan setiap waktu kencengi hizbt bahr, hasbunallah wanikmal wakil 450 x. Muleh-muleh yakin miber nde.

Puji Lestari
Mahasiswa IAIN Surakarta.

Posting Komentar

0 Komentar