gambar: https://share.google/images/3VGzKjPGD8QzwBOnJ
Untuk pertama kalinya, hari ini siswa kami mulai menerima MBG dari pemerintah. Seminggu sebelumnya para kepala sekolah sudah rapat tentang sistem pengolahan, teknis, prosedur, koordinasi, dan menggali penyebab rumor MBG yang mengarah pada kemudharatan.
Program ini bertujuan baik. Penyelenggaran juga menimbang kelayakan makanan tentu dengan mengusahakan yang terbaik untuk konsumsi anak-anak bangsa. Akan tetapi di minggu terakhir bulan September ini angka korban dari MBG tidak tergolong sedikit. Media tak henti-hentinya mengedarkan keberagaman persoalan yang terkait dengan MBG. Persepsi masyarakat terpecah, termasuk wali murid saya.
Sore itu. Tiba-tiba ada WhatsApp dari salah satu wali murid, mengenai pemerataan program MBG pada siswa, saya sudah diingatkan terlebih dahulu untuk berhati-hati tentu saja mencegah supaya anaknya tidak dibagikan makanan tersebut. Dengan guyonan, makanan itu untuk saya saja.
Yahh!! Senang hati, menerima hadiah MBG yang tidak termakan, bisik batin saat itu.
Tapi, saya menemukan hal lain pada praktik pembagian MBG hari ini. Di kelas lain istirahat pertama rerata digunakan untuk testimoni MBG yang ditakutkan sebagian warga sekolah itu. Sedangkan kelas saya belum beranjak untuk mengambil jatah MBG yang sudah disediakan di meja depan.
Sebelum mereka mengonsumsi makanan yang telah disediakan, saya memastikan mindset mereka bagus untuk menerima segala kabar negatif tentang MBG hari ini.
Kepastian ini berujung pada kesepakatan kelas yang lagi-lagi bertujuan untuk membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan peduli siswa. Salah satunya, sepakat untuk mulai makan di jam istirahat ke dua. Di saat perut benar-benar membutuhkan asupan yang cukup. Di saat siswa hanya mendambakan MBG untuk dikonsumsi.
Mereka antusias, saya pun berupaya untuk memenuhi kebahagiaan mereka.
Jam istirahat kedua datang. Mereka yang sebelumnya sudah terserang berita negatif dari kelas lain tetap menautkan sendok dan garpu pada meja kayu untuk meminta makan. Saya membagikan MBG dengan menepis kekhawatiran yang berlebihan. Mereka yang polos menerima dengan sesekali mengintip isi dari balik tutup makanan itu, mereka mengawali dengan berdoa bersama dan menyantapnya bersama-sama.
Aman??? Tunggu dulu.
Saat saya menerbangkan ponsel untuk mengambil gambar anak-anak, tiba-tiba saja saya mendapat peringatan lagi untuk memenuhi permintaan di hari sebelumnya. Melihat teman-temannya makan, siswa tersebut (yang dimaksud di awal) hanya berani mengambil anggur yang tidak dihabiskan pula. Padahal ia salah satu siswa yang juga menantikan jam istirahat kedua untuk bisa makan seperti yang lain, untuk meringankan kekecewaannya, saya membungkus makanan itu dan memintanya untuk dibawa pulang. Ya, ia setuju.
Kemudian bagaimana dengan siswa lainnya???
Mereka menyantapnya dengan suka cita, beberapa habis beberapa lagi tersisa sayur, dan nasi yang menggunung. Kami sepakat, sisa makanan tidak untuk dibuang, akan tetapi untuk dikumpulkan dan dibawa pulang anak-anak yang memiliki ayam di rumah.
Selepas maghrib saya mendapat pesan dari wali murid lagi. Kali ini, berisi ucapan terima kasih atas nasi yang telah diberikan. Saya sempat kebingungan karena saya tidak memberi nasi, tapi saya membagikan sisa-sisa lauk dan makanan kepada anak-anak yang menginginkan untuk diberikan pada ayam mereka.
Pesan selanjutnya memaparkan makanan yang dibawa anaknya masih layak untuk dikonsumsi (kembali).
Misal besok ada sisa lagi, tolong panjenengan bawakan lagi nggih Bu. Begitu tulisannya,
dan setelah itu, grub umum mengabarkan jika besok tim MBG belum bisa mengirimkan makanan itu lagi.
Apakah kita juga menanti untuk hari-hari selanjutnya?

0 Komentar