Pagi itu kelas memang didesain dengan suasana sepi dan hening, hanya terdapat segelintir orang yang dapat memenuhi ruangan. Tiba-tiba saja Dosen meyodorkan dua lembar kertas kepada kami, yang berisikan contoh berita straightnews dan berita feature, saat itu juga kuliah sedang berlangsung.
Semester ini dalam jurusan kami ada dua mata kuliah peminatan yang harus dipilih satu oleh setiap mahasiswa. kebetulan saja saya memilih mata kuliah penulisan feature, dalam mata kuliah ini pak Ichwan sebagai pembimbing kelas kami tidak segan-segan menekankan kepada kami untuk giat dalam menulis. Pertemuan pertama di minggu lalu, sepemahaman saya mengenai feature yaitu penulisan yang menggunakan salah satu bentuk tulisan yang bertujuan untuk menghibur namun didasari dengan fakta.
Berdasarkan penjelasan dari Pak Ichwan, menulis feature itu ibarat kita sedang gosipin orang lain bersama kawan kita. Bagaimana tidak sama, ghosipin orang lain itukan juga mengincar fakta sampai keakar-akarnya. Namanya Ghibah Faktual. Saat itu juga kami dituntut untuk membangun imajinasi mengenai seseorang dan merangkainya menjadi susuan kalimat-kalimat yang fakta dan akurat. Kami mendengar pernyataan tersebut tertawa, kemungkinan yang dinamakan ghibah seng sae ya ini ghibah yang berbentuk tulisan.
Umumnya dari kami mungkin sambatnya hanya seputar bagaimana cara merangkai kata supaya dapat berkembang? Bagaimana jika kita kehabisan kata-kata? Bagaimana cara menentukan judul yang tepat? atau Bagaimana cara mengakhiri tulisan ini?. Sedari dulu kami sudah dikejar-kejar dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dari dulu banget, tapi kenapa sampai saat ini masih saja bingung. Namun apalah daya otak yang tidak mampu bekerja cepat dikarenakan kurangnya pengetahuan.
Untuk itu, agar bisa merangkai kata-kata pada setiap kalimatnya seseorang butuh modal kekayaan dan penguasaan berbagai ilmu pengetahuan. Semakin seseorang itu menguasai ilmu pengetahuan semakin besar pula peluang untuk bisa menulis di pelbagi media.
Mengenai jenis pengetahuan Crose menjelaskan secara umum bahwa pengetahuan itu dapat dibagi menjadi dua, pengetahuan logis dan pengetahuan intuitif. Pengetahuan yang berhubungan dengan suatu hal yang logis dan pengetahuan yang bersifat individual. Metodenya hanya ada dua membaca dan menulis kemudian dilanjutkan dengan diskusi, mungkin seperti itu. Kemauan untuk menulis saja sudah syukur Alhamdulillah ditambah ajeg ya lebih baik.
Mengenai jenis pengetahuan Crose menjelaskan secara umum bahwa pengetahuan itu dapat dibagi menjadi dua, pengetahuan logis dan pengetahuan intuitif. Pengetahuan yang berhubungan dengan suatu hal yang logis dan pengetahuan yang bersifat individual. Metodenya hanya ada dua membaca dan menulis kemudian dilanjutkan dengan diskusi, mungkin seperti itu. Kemauan untuk menulis saja sudah syukur Alhamdulillah ditambah ajeg ya lebih baik.
Lembar 1
Majelis Taklim Raudhatul Nafisah Gelar Bazar
SOLO—Majelis Taklim Raudhatul Nafisah Di HArjodipiran, Joyosuran, Pasar Kliwon, Solo, Kamis (26/8), menggelar bazar di kampong tersebut. Ketua panitia bazar Anik Aidid, mengatakan bazar itu diselenggarakan untuk membantu warga tak mampu mendapatkan bazar pakaian dengan harga murah.
Semua pakaian layak pakai yang dijual di bazar dihimpun dari anggota Majelis Taklim Raudhatul Nafisah dan masyarakat sekitar. Tidak sembarang orang bisa membeli pakaian pantas pakai di bazar tersebut. Panitia hanya melayani warga yang bisa menunjukkan kupon yang dibagikan sebelum bazar dibuka. Kupon yang dibagikan 150 lembar.
Lembar 2
Tetap Senang Meski Pakai Baju bekas Saat Lebaran
Senyum Gilang, 5, mengembang lebar begitu sampai di Bazar Murah yang digelar Majelis Taklim Raudhatul Nafisah di Harjodipuran, Joyosuran, Pasar Kliwon, Solo, Kamis (26/8).
Senyum tak henti tersungging di bibir saat bocah ini mulai memilah-milah oakaian di hadapannya bersama ayahandanya, Sunar, 30, warga Semanggi, Solo. Aktivitasnya mendadak berhenti saat Gilang menemukan sebuah jaket warna merah di antara tumpukan pakaian tersebut. “Ini baju bagus, Pak, dibeli ya” kata Gilang kepada ayahnya.
Gilang dilahirkan dalam keluarga yang serbakekurangan. Ayahnya, Sunar, hanyalah seorang tukang becak. Jangankan untuk membeli baju batu untuk anaknya semata wayangnya, untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Sunar mengizinkan istrinya, Suryati, 27, berpisah dengan sang buah hati untuk mengadu nasib di Negeri Singa setahun silam menjadi tenaga kerja wanita (TKW).
“Sekarang ibunya masih di Singapura. Lebaran ini tidak pulang. Jadi, saya hanya bisa merayakan Lebaran kali ini bersama putra saya,” papar Sunar saat ditemui Espos di lokasi.
Menjelang Lebaran ini, Sunar harus menekankan pengeluaran keungan semaksimal mungkin. Itu sebabnya Sunar memilih mengajak putranya belanja di Bazar Murah daripada di pasar tradisional maupun modern. Cukup bermodal Rp8.000, Sunar sudah bisa memborong tujuh jenis pakaian pantas pakai.
“Harga baju koko dan jaket ini masing-masing Rp1.000. Sangat murah. Pakaian (bekas) yang dijual masih bagus-bagus. Anak saya akan senang saat Lebaran meski harus memakai baju pantas pakai,” ujar Sunar.
Pakaian pantas pakai yang dijual dalam bazar tersebut cukup lengkap. Ada yang ukuean anak-anak hingga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Selain menjual pakaian pantas pakai, panitia juga memberikan paket sembako kepada fakir miskin dan yatim piatu.
“Pakaian itu kami kumpulkan dari masyarakat sekitar dan anggota Majelis Taklim Raudhatul Nafisah,” ujar ketua panitia Bazar Murah, Anik Aidid.
Tidak sembaran orang bisa membeli pakaian pantai pakai di Bazar Murah tersebut. Panitia hanya melayani warga yang bisa menunjukkan kupon yang dibagikan sebelum bazar dibuka.
“Kami membagi 150 kupon kepada orang-orang miskin yang selama ini banyak menggantungkan hiduop mereka di jalanan,” kata Anik.
Pada lembar pertama berisikan contoh berita straightnews atau biasa disebut berita langsung. Uniknya berita ini hanya terdapat dua paraghraf, namun jika dicari unsur-unsur beritanya semua sudah terkandung di dalamnya. Sedangkan pada lembar kedua merupakan contoh berita feature. Kedua berita tersebut merupakan peristiwa yang ditulis dengan wartawan yang sama namun dengan model berita yang berbeda.
Suasana hening. Saya diam sejenak, bahkan sama dengan semua orang yang ada di kelas mematung mengamati dua lembar yang telah diberikan oleh Pak Ichwan. Saat itu juga kami dituntut untuk mengolah otak supaya sedikit lebih encer dari biasanya. Pak Ichwan menyunggingkan senyumannya dan menyakan kepada kami tentang contoh berita pada lembar pertama dan kedua.
Dari dulu yang kita ingat bahwa unsur berita pasti keterlibatan suatu berita dengan 5W+1H, namun dengan singkatan kata ADIKSIMBA kita lebih mudah dalam mengingatnya.
Kata A merupakan singkatan dari pertanyaan “Apa”. Apa yang sedang terjadi pada peristiwa tersebut?
Pada contoh kedua berita di atas untuk pertanyaan “Apa” sedikit ada perbedaan. Pada berita pertama kami mendiskusikan bahwa peristiwa yang sedang terjadi adalah bazar yang digelar oleh Majelis Taklim Raudhatul Nafisah. Sedangkan pada berita feature untuk pertanyaan “Apa” lebih menyudutkan peristiwa tentang kemiskinan, bazar murah, bisa juga tentang baju bekas. Kami menyimpulkan peristiwa yang sedang terjadi merupakan konflik kemiskinan, dikarenakan pada paraghraf tiga pada berita feature menjelaskan bahwa Gilang dilahirkan dalam keluarga yang “serbakekurangan”.
Untuk singkatan kata DI dan K merupakan pertanyaan dari “Di mana” dan “Kapan”. Pada kedua berita tersebut menyatakan jawaban yang sama. Bazar tersebut digelar di Harjodipuran, Joyosuran, Pasar Kliwon, Solo, Kamis (26/8). Kemudian pada singakatan kata SI merupakan rujukan pada singkatan “Siapa”. Pertanyaaan siapa inilah yang menjadikan perbedaan menonjol antara berita straightnews dan berita feature. Pada berita pertama pertanyaan “Siapa” hanya ada Anik Aidid, sebagai ketua panitia yang menyatakan ketika menjawab tujuan diadaknnya bazar. Namun, berbeda dengan berita feature, pada contoh berita yang kedua ini lebih banyak menjelaskan sosok pada setiap isi beritanya sehingga dapat ditemukan Gilang (5), Sunar (30), Suryati (27), dan Anik Aidid ketua panitia. Justru pada sudut pandang inilah yang paling pokok untuk membedakan antara berita straightnews dengan berita feature. Kemudian inti dari kedua berita tertelak pada unsur berita “M” dan “BA” dua pertanyaan ini sangat berpengaruh pada berita. Berita pertama pertanyaan “Mengapa” dapat terjawab dengan pernyataan Anik pada berita tersebut sedangkan pada berita kedua dapat terjawab dengan alasan Sunar mendatangi bazar atau sekelumit rasa senangnya Gilang ketika mengunjungi bazar pada waktu itu. Kemudian untuk penyataan “Bagaimana” pada bentuk tulisan berita straightnews lebih mengarah pada “Bagaimana cara menghimpun atau menjual pakaian layak pakai?” sedangkan pada contoh berita feature dapat diaplikasikan dengan pertanyaan “ Bagaimana proses pembagian kupon?” atau dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Bagaimanapun model tulisan yang akan kita tulis, dalam teori-teori manapun mempertegas bahwa syarat untuk menjadi penulis yaitu dengan cara banyak-banyak membaca. Banyak membaca dalam konteks ini bukan berarti kita setiap waktu harus mengamati rangkaian kalimat-kaliamat yang terdapat pada buku, namun dengan cara mengamati kondisi atau fenomena yang sedang terjadi disekitar kita hal itu sudah menunjukkan bahwa kita sedang membaca secara kontekstual.
Tulisan kita bagus atau tidak yang terpenting adalah jangan pernah berhenti untuk menulis apa saja yang dapat kita tulis. Meskipun hanya berupa selembar resep makanan atau mention-mention tidak penting yang memenuhi instastory media social kita. Karena semua itu butuh proses meskipun harus merakit tulisan sampah belasan tahun, namun dengan niat yang sungguh mungkin tulisan sampah tersebut dapat menjadi tulisan baik dan diterbitkan. Oleh karena itu sangat penting untuk penulis pemula mengetahui unsur-unsur berita dan tepat dalam memetakkan setiap peristiwanya.
Tulisan kita bagus atau tidak yang terpenting adalah jangan pernah berhenti untuk menulis apa saja yang dapat kita tulis. Meskipun hanya berupa selembar resep makanan atau mention-mention tidak penting yang memenuhi instastory media social kita. Karena semua itu butuh proses meskipun harus merakit tulisan sampah belasan tahun, namun dengan niat yang sungguh mungkin tulisan sampah tersebut dapat menjadi tulisan baik dan diterbitkan. Oleh karena itu sangat penting untuk penulis pemula mengetahui unsur-unsur berita dan tepat dalam memetakkan setiap peristiwanya.
0 Komentar