Resensi Buku " Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya"


Identitas Buku          
Judul Buku                  : Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi Dari Madura
Penulis                         : Rusdi Mathari
Penerbit                       : Buku Mojok
Genre                          : Agama
Tahun Terbit                : 2016
Jumlah Halaman          :  226
Nomer Edisi                : ISBN 978-602-1318-40-9

“Mereka sibuk melihat orang lain tapi alpa melihat ke dalam diri mereka sendiri. Sibuk menilai orang lain dan lupa menilai kekurangan diri sendiri”

“Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”.  Merupakan kumpulan kisah-kisah yang berseri di web mojok.co pada bulan Ramadhan di tahun 2015 dan 2016. Sakeng kisahnya banyak digemari oleh masyarakat Indonesia Raya Merdeka, tim Mojok ternyata terketuk hatinya untuk mengumpulkan beberapa kisah menjadi satu rampel buku dengan jumlah halaman yang tidak cukup satu jam untuk membacanya.

Seseorang berteriak dari bawah, kira-kira nama saya sedang dipanggil. Ternyata benar, saya ndak salah dengar. Dari arah Timur saya ndak bisa berhenti mesam –mesem sesekali dicandain salah satu temen yang lagi di teras kamar mandi “Weseleh,,Paketan anyar iki” tuturnya sambil menggosok sepatu bagian dalam menggunakan sikat gigi. Cengiran saya langusng melebar sepanjang garisan 30 cm. Ampelop coklat susu berkombinasi dengan coklat pekat saya raba isinya. Iya benar cuma ada satu jilid. Isinya tenggelam dalam ampelop tersebut (ya mesti lah) dan pasti ada permen lolipopnya hehe. Karena bonus plus-plus itu saya langsung membuka ampelop tersebut. Wah buku cak Rusdi mentereng dengan lapisan plastik yang banyak plendungannya, jadi kalo makan lolipop biasanya disambi dengan mem-finishkan plastik plendungan lalu baru mengirup aroma buku yang baru njedul dari buntelan plester.

Saya buka perlahan menggunakan hati, lalu lanjutannya saya buka menggunkaan pemes (ya iyalah menggunakan pemes, kan ada halaman yang masih gancet) lalu baru menggunakan tangan. Saya baca dengan gaya gelimbung sana gelimbung sini, mujur sana mujur sini ngetan ngulon semua tak jejaki yang awalnya puanas bizaenget jadi setengah mendung, mendung total, gerimis kecil-kecil, sampai pada semua titik pelapon memang sudah saatnya diganti. Banjer ges kamare. Baskom-baskom menghiasi lantai kamar, dan sayapun masih tetap memaku buku dengan gaya yang berbeda lagi kali ini saya angkat kedua kaki di dinding dan muka saya saya srempetkan sedikit dengan tetesan air hujan yang nresep di pelapon kamar. Beberapa saat kemudian hujan berhenti dan saya sudah selesai membaca buku ini.

Jadi begini, serial drama ala Madura ini berkisahkan tentang kejadian sehari-hari Cak Dlahom di Desanya. Cak Dlahom merupakan duda tua yang nyeleneh, yang sering ditertawakan warga, dan pastinya sering dianggap gila dengan warga kampung. Bagaimana tidak dianggap gila lha wong Anjing sama Kambing saja dipeluknya bergantian, tidur telanjang diteras masjid ya ndak sungkan, apalagi tawon nguber-nguber ya santai-santai wae rikane.

Buku ini mengulas karakter yang beraneka ragam, dari Mat Piti yang suka membantu, Cak Dlahom yang edan, Romlah yang jadi kembang desa, Gus Mut yang suka mbeweh, Pak Lurah yang biasanya suka komen tentang Cak Dlahom juga karakter-karakter lainnya. Namun dengan Dlahom yang dianggap kurang waras dalam kesehariannya, ternyata mampu menampar bolak-balik warga kampung sebanyak tiga puluh kali (sesuai banyaknya judul dikisah ini) juga kepada saya. Sampai abang mranang malah. Terasa tamparan Cak Rusdi memang sedikit agak meleset (karena dari awal saya bacanya sering oper posisi) tapi ndak pernah berhenti sampai pada halaman biografi.

Peran Dlahom disini lebih tepatnya sebagai komentator  perbincangan yang berhubungan dengan ibadah. Seperti kutipan dialog Dlahom “ Shalatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tetapi Sarkum yang yatim adalah urusan kita semua” dari kata-kata itu saya terpenjat kaget sambil membelalakan mata, saya menyadari bahwa manusia berjalan menuju Allah kebanyakan dengan jalan nafsu, ya pantes jika dalam buku ini ada judul “ Membakar Surga Menyiram Neraka” nah ada kalo dipikir-pikir sampai judeg, manusia pada umumnya memang mengunggulkan ibadahnya dan lupa kewajiban kepada sesama. Cuma banggain amalan tanpa meneliti niatan-niatan salah. Tersindir saya, asli.

 Hal ini terjadi pada Sarkum yang bapaknya inalillahi terus berujung pada ibunya yang gantung diri, nah kan ngenest banget tuh si Sarkum sudah ndak sekolah kedua orang tuanya pulang ke tangan Allah, ndak punya sodara, gimana ndak ngenest pake poll-pollan. Maka dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa surga hanyalah tipuan bagi manusia, untuk apa manusia berbondong-bondong  ibadah sedangkan sedulurnya ndak dilirik sama sekali. Percuma le,

 Cak Nun saja pernah berkola “ Islammu kui ojok kok ketokn-ketokne” Lalu saya berpikir baiklah sekarang saya ingin mempunyai sayap supaya bisa seperti Gus Miek yang sholat diatas pohon, dan sekti kayak wali-wali lainnya hehe.

Jadi, kira-kira begini “sembunyikan se-ndelik-ndeliknya amalmu, seperti kamu menyembunyikan aibmu” nah masook kan. Mbok sedikit-sedikit ngelirik tresnane mbak Robiah sama Pengeran. Jan joss markotoppp. Mbak Robiah saja sebegitu mahabahnya sama Allah la kita. Ngaku, beragama tapi apa iya beribadahnya kita bener? Tanda tanya sak lusin kan.

Kebanyakan orang menolong itu karen iba, karena mereka ingin dipuji dan dapat stempel “ selamat anda menjadi manusia pertama yang menolong saudara fulan” dan rasa sungkan karena dia adalah kawan sendiri atau alasan-alasan yang lain. Banyak orang yang merasa ilmu tinggi yang paling benar terus ujung-ujungnya menutup pintu rapa-rapat kalo ada orang yang kulo nuwun ingin berpendapat, menyalahkan orang yang berbeda kubu, saling lempar sempol sana sini, dibuangnya tanpa mau mengunyah dan menelannya. Haishh kalian semua memang Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya”

Kelebihan
Buku ini saya kasih jempol lima lah pinjem tetangga satu. La gimana kalo ndak jempol lima, bahasanya itu renyah bisa dikunyah sambil ditelen, terus bikin imbuh ujung-ujungnya rampung sampai sampul belakang. Kisah-kisah yang disajikan sangat realita di kehidupan. Humornya jangan ditanyakan lagi, ngakak guling-guling ya ndak direncanakan berarti ndagel beneran kan. Alhamdulillah saja Cak Dlahom dari awal memang sudah dipercaya Mat Piti, jadi Cak Dlahom sesekali dapat diundang di sebuah acara untuk memberikan wejangan-wejangan buat warga. Biar kelihatan warasnya didepan warga. Kemudian, dalam sebuah cerita yang ndak ada ambu-ambunya perempuan pasti ya garing, untung saja di buku ini ada mbak Romlah sebagai kembang desa pasti ada kisah cintanya to kalo ada perempuan. Cak Rusdi markotop lah dengan buku ini, saya benar-benar tertampar puas dalam menyelami kisah-kisahnya. Nasihat-nasihat yang diberikan sederhana, namun menohok sekali bahasannya, bahasan ringan tapi sering disepelekan manusia. Njengan ngeluwihi ustad sosmed Cak.

Kekurangan
 Kekurangan dari buku ini adalah, kenapa ada beberapa kisah yang ndak ada jawabnnya Cak????? Dikisah Ramadhan kedua dengan judul “ Pak Haji, Bu Puasa.....Mbah Syahadat” kenapa ndak ada jawabannya Cak, kenapa kok mereka ndak dipanggil seperti itu kenapa cuma Pak Haji saja yang familiar dikampung. Bikin penasarankan, malah cuma dapat eseman Cak Dlahom saja di akhir kisah. Ya sudah tidak apa-apa saya maafin hehe. Kemudian untuk cover buku, kok saya lihat-lihat dari sampul pertama sampai sampai kedua kok dibikin beda yang satu ndak ada anjingnya, yang satu kok ndak ada muka-muka gendengnya Cak Dlahom.  Kemudian buku ini jika dimasukkan dalam suatu acara bedah cerita buku, mungkin pengisah sedikit kesulitan dengan berbagai kisah dan judul yang berbeda-beda. Cocoknya ya dibaca sendiri, karena kalian akan merasakan tamparan-tamparan rohani dari Cak Rusdi.



Posting Komentar

0 Komentar