Mobil mewah itu berhenti di salah satu rumah warga. Beberapa
orang berjubah putih turun dari mobil tersebut. Dari arah lain pasangan suami
istri segera menghampiri tamu agungnya dengan menunduk mereka mencium
bolak-balik telapak tangan pemiliknya, kemudian diantarkannya menuju ruang tamu
yang sudah disediakan berbagai macam makanan. Kali ini, tamu mereka bukan orang
sembarangan. Kedatanganya saja diyakini dapat menghantarkan kebarokahan,
apalagi nama mereka bisa disebut dalam doa’-do’anya bagaikan pengemis yang
menelan lautan emas, bukankah ini sangat menyenangkan?
Di luar ruangan tersebut, tampak beberapa warga berkumpul
dan memincingkan mata menatap mobil mewah itu. Mereka sepakat, seperti ada yang
ganjal pada tamu tetangganya ini. Dan menduga-duga hal ini bisa menjadi wabah
untuk desanya nanti.
“ Siapa yang seperti orang penting” tiba-tiba Pak RT datang dan
ikut melongok kearah mobil mewah itu.
“ Eh, Pak RT. Itu Pak RT, Pak Nur sudah kayak orang penting
saja dia didatangi sama tamu berkendara mobil”
“ Astaghfirullah,,,Bu Retno Mpok Siti dan ibu-ibu yang lain,
ingat jangan mudah terbakar emosi. Kita semua memang tidak tahu apa tujuan Pak
Nur mendatangkan tamu asing. Tapi yang paling penting adalah, kita harus tetap berprasangka baik terhadap
orang lain apa lagi terhadap sesama muslim. Ingat, orang yang menggunjing sama
dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri”
“ Sudah-sudah, ini mau maghrib saya pergi dulu ya. Inget
jangan sampai dilanjutkan ghibahnya” sapa pak RT pamit dengan meninggalkan
kerumunan ibu-ibu.
Keesokan harinya aktivitas warga berjalan seperti biasa.
Matahari bersinar lebih ramah dari sebelumnya, langit tidak lagi menurunkan hujan, mobil mewah dan
kerumunan ibu-ibu tidak lagi terlihat di desa itu. Hanya saja kali ini angin
berhembus dengan sedikit kasar, melayangkan daun-daun kering, dan menerbangkan
setiap pasir yang ada di depan rumah itu. Di salah satu ruang rumahnya, Pak Nur
terlihat tertawa terbahak-bahak, meletakkan tangan kirinya dipinggang dan
menyisir rapi kumis tipisnya dengan berdesis lirih.
" Aku dilut ngkas bakal sugih"
***
Sejak Pak Nur kedatangan tamu agung di rumahnya.
Ketidakhadirannya dalam beberapa selamatan di rumah warga kembali dibahas.
Ketika sore hari, kawanan bapak-bapak sering berkumpul di teras Pak RT atau
gardu yang berada di depan rumahnya. Hanya untuk sekedar bertukar cerita atau
membahas perkembangan desanya.
Pak Nur sendiri tidak pernah absen dalam kegiatan rutin
tersebut. Namun tampak berbeda dengan satu minggu terakhir ini, batang hidung
Pak Nur sama sekali tidak tampak. Bau badannya yang selalu berluluran minyak
wangipun tidak lagi tercium. Biasanya Pak Nur yang paling cepat memarkir diri
di depan rumah Pak RT. Kali ini tidak.
Pak Nur memang terkenal sebagai orang yang pandai bebicara.
Kehebatan bicaranya sudah teruji oleh warga lain. Banyak warga yang sudah
menggunjing gaya bahasa Pak Nur, yang selalu ingin terlihat suci dan dianggap
benar. Meskipun menjadi buah bibir warga kampung ia tetap berani tampil di
depan para warga, berpendapat dengan keimanannya dan tetap berusaha
mempengaruhi orang lain.
Sore itu, di warung Mbah Sugiem tiba-tiba dikejutkan dengan
kedatanag Bu Nani. Istri Pak Nur itu tidak jauh berbeda dengan suaminya. Nyaris
tidak lagi keluar rumah setelah kedatangan tamu agung beberapa waktu lalu,
pantas saja Mbah Sugiem dibuat heran dengan kedatangannya.
“ Mbah, tolong bungkus semua tepo pecel ini. Bagikan dua-dua
ke semua rumah biar saya yang bayar” ujar Bu Nani dengan seringai amat lebar
penuh dengan luapan rasa bahagia.
Mbah Sugiem tidak segera menyetujui permintaan tetangganya
itu. Rasa penasarannya lebih dahulu menguasai akal pikiran. Siapa yang tidak
heran dengan permintaan Bu Nani kali ini. Keluarga Pak Nur dikenal sebagai
keluarga yang serba kekurangan. Pak Nur sendiri belum memiliki pekerjaan tetap.
Ah,,mungkin keluarganya sedang mendapat rejeki sehingga ingin berbuat baik
terhadap sesama. Batin Mbah Sugiem.
“ Wah,, dalam rangka apa ini kok kayaknya senang banget”
“ Aku mau syukuran Mbah, sebentar lagi Pak Kyaiku mau ngirim
mobil pajero”
Mbah Sugiem menghentikan kegiatannya. Kemudian mencari sorot
mata bangga itu." Wes Mbah pokok.e aku nitip dum-dumne neng omah-omah
ya, ko bar iki tak duiki" Pinta Bu Nani dengan logat jawa medoknya yang
bernada sedikit bangga.
Mbah Sugiem mengiyakan dan melanjutkan membungkus tepo
pecelnya. Dikarenakan faktor usia, Mbah Sugiem merasa Manik dan Tyari lebih
pantas dimintai bantuan untuk membagikan tepo pecel kepada warga, meski
keduanya terkejut justru Tyari memincingkan senyuman sinis ke arah tepo yang ia
genggam.
***
Waktu itu tidak sedang musim hujan. Sengatan matahari terasa
membakar jiwa-jiwa yang sedang berada di luar rumah. Berbeda dengan Tyari yang
menikmati silirnya kipas angin bobrok yang ia letakkan di depan TV di ruang
tengah. Senyuman Tyari meyeruak ke seluruh ruangan. Siang itu ia merasa puas,
karena semua pekerjaan sudah terselesaikan.
Nyaris berbeda dengan suara langkah kaki terburu-buru yang
diikuti dengan kebulan debu pasir, bermil mil tetetasan keringatnya mendarat di
bumi, akal pikirannya teredam emosi, keinginannya harus segera diperjuangkan.
Harga dirinya dibahas nanti setelah berhasil.
“ He Tyari. Kamu harus ganti rugi " teriak Pak Nur
tiba-tiba dengan mendebrak meja. Tyari yang tengah asyik menikmati angin buatan
itu langsung beranjak dari tempat duduknya.
“ 10 tahun yang lalu ketika kamu mau bangun rumah ini, kamu
pernah hutang aku kan. Empat ember air sama
pinjam selang, mana sampai sekarangpun belum juga kamu bayar"
Pernyataan Pak Nur memang memancing emosi Tyari lebih dari
biasanya,ia yang sebelumnya terbiasa berucap pedas dengan pekerjanya kini
merasa tertantang dengan kedatangan pak Nur. Tyari mulai menatap kedua
pincingan mata Pak Nur, ia merasa sedang dibodohi untuk mengakui kesalahan yang
dibuat suaminya 10 tahun silam, tapi itu semua sudah berakhir dan sudah
terbayarkan sesuai atas kesepakatan.
"Kalau gak punya uang bilang saja Pak Nur, jangan nuduh
keluarga kami punya hutang. Butuh berapa sini tak kasih" ujar Tyari dengan
senyuman sadis yang menjengkelkan
Pak Nur tidak membantah, mukanya yang sudah terbakar oleh
matahari kini lebih terbakar oleh ucapan dari Tyari, saat itu langkahnya dan
hubungan tetangga mereka memilih untuk pulang, diiringi dengan dengusan amarah
dari Pak Nur yang merasa gagal dihadapan tetangganya itu.
***
Satu minggu berlalu hingga berganti minggu dan bulan. Dari
arah Utara Nani berjalan pelan menyusuri jalan kampung. Ia menggunakan jaket
rapat sehingga topinya membalut rambut licin di dalamnya. Pandangannya menatap
lurus tanpa berkedip, dengan lipatan kerut yang menumpuk di bawah matanya
terkadang ia juga membendung air mata di sana.
Permohonannya waktu lalu hilang begitu saja, tidak ada mobil
tidak ada kebahagian untuk anaknya yang akan dijanjikan tentara saat itu.
Sedangkan di dalam rumah, Pak Nur menyudut jarang keluar rumah, takut dengan
janji-janji palsu yang ia buat di depan warga kampung. Sialnya puluhan juta
untuk mengundang tamu agungya waktu itu tidak lagi membekas, tiba-tiba saja Pak
Nur berucap " Duh Gusti dengan siapa saya berTuhan saat ini"

0 Komentar