Malam Rabu kemarin, SPPG wilayah sekolah kami mengirimkan informasi pemberhentian sementara operasional MBG hingga sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan.
Ada dua pesan yang bisa saya simpulkan dari kalimat yang telah disampaikan. Pertama, penyebab dan akibat terjadinya pemberhentian MBG. Kedua, tidak ada harapan yang dapat dipastikan kembali terkait dengan program ini.
Saya coba bertanya kepada siswa bagaimana perasaannya saat tidak mendapat MBG. Saya kira mereka akan kecewa, ternyata tidak, saya salah sangka. Mereka justru berseru kegirangan dan menyayangkan soal berkurangnya jatah makan untuk kucingnya. Saya menemukan raut wajah kelegaan itu tidak pada orang dewasa, melainkan pada ungkapan tulus seorang anak.
Berlangsungnya persoalan negara saat ini, dan kiranya sangat jauh suara-suara kecil ini dapat tersampaikan. Saya mencoba mengingat-ingat perkembangan situasi yang minim dapat saya lihat, sejak sebelum terealisasikannya program MBG. Saya menelisik kembali adanya pro dan kontra himbauan tentang 5 hari sekolah yang pernah menjadi topik panas saat diterapkan di sekolah dengan apa yang dialami oleh sebagian siswa baik di dalam maupun di luar sekolah.
Begini, mungkin pembahasan ini sudah menjadi sampah atau menjadi sebuah pembahasan yang harusnya memang sudah selesai dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Oke, saya mengerti. Tapi tunggu dulu, saya mencoba kembali pada beberapa hal yang kiranya kecil untuk bisa dilihat secara terang.
Sadar ataupun tidak, mau tidak mau sekolah yang bersedia memilih 5 hari kerja segera mengatasi kebijakan baru untuk lembaganya. Di beberapa sekolah, pemberlakuan mengantar bekal siang hari mulai ditawarkan dan dianjurkan kepada wali murid. Jam istirahat kedua menjadi lonceng kegembiraan bagi anak-anak. Rak-rak penitipan bekal dan sound audio sering kali berbunyi memanggil nama-nama siswa yang sedang mendapat bingkisan dari orangtuanya. Dan saya, kerap sekali menemukan beberapa siswa mengumumkan kegembiraannya kepada teman-temannya sebab sang Ibu selalu menulis surat cinta di atas kotak bekalnya.
Stop dulu. Jangan bertanya perasaan siswa yang tidak mendapatkan surat cinta dari Ibunya.
Oke, saya lanjutkan. Di sini saya ingin menarik jalan tengah tentang perjalanan 5 hari kerja. Kita semua sadar bahwa tidak hanya siswa, guru, dan wali murid saja yang belajar. Tapi, sistem ruang belajar di luar sekolah dan para masyarakat sekitar juga dipaksa untuk paham dengan situasi yang sedang berjalan. Jadwal pengajian setiap sore mengalami perubahan. Siswa yang terbiasa menambah jam les selepas pulang sekolah terpaksa mengatur waktu lagi untuk bisa mencocokkan dengan waktu mengaji. Pulang sekolah, lelah. Tingkat kecemasan bukan hanya didapat dari rumah saja melainkan juga tekanan yang dibawanya dari sekolah. Setiap hari berulang seperti itu. Anak-anak yang memiliki tangki cinta penuh di rumah, mungkin akan lebih mudah dikendalikan. Tapi, tidak semua anak beruntung mendapatkannya. Rasa lelah anak saat di rumah hampir tidak ada bedanya dengan lelahnya orangtua.
Hari Sabtu diklaim sebagai harinya untuk belajar materi non-akademik, atau sebagai poin plus bisa berkumpul dengan keluarga, tapi buktinya banyak siswa yang justru melimpahkan kepenatannya dengan mengurung diri di rumah. Karena saking lelahnya, juga bisa karena minimnya pertemanan di lingkungan rumah. Selain itu, beberapa pedagang jajanan juga kebingungan harus menentukan satu hari untuk mangkal di tempat yang pasti. Jika hari Sabtu sekolah-sekolah libur, otomatis mereka mau tidak mau akan mencari jalan lain selain mangkal di sekolah.
Saya sedang tidak membahas jajanan sehat dan tidak sehat, no no ya.
Ya, kita mengakui akan terlaksananya 5 hari kerja jelas memberikan lebih banyak waktu untuk bisa menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan dalam satu minggu. Tapi sejauh ini, justru saya banyak menemukan tanda-tanda burnout pada diri siswa, salah satunya hilangnya motivasi dalam belajar sebab rasa jenuh yang mereka rasakan. Sebenarnya hal ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kegiatan sekolah sedang berjalan, pola lingkungan di rumah pun juga menjadi pilar utama dari keselamatan mental seorang siswa.
Jika kita amati, 5 hari kerja justru tidak ada bedanya dengan 6 hari kerja. Setiap hari waktu terasa begitu cepat berganti, jeda yang seharusnya untuk rehat dan menyiapkan segala kebutuhan mingguan malah dialokasikan menjadi jadwal-jadwal lain dan meninggalkan kebutuhan wajib.
Beban-beban mental yang seharusnya bisa diatasi orang dewasa pun, bagi seorang guru dan para orang tua yang paling sulit dilawan justru rasa kosong yang sering terjadi. Jangan sampai rumah hanya sebagai tempat singgah, dan jangan sampai siswa mengganggap sekolah hanya sebagai rutinitas penebusan kegiatan harian tanpa membawa rasa tanggung jawab.
Tahun-tahun berikutnya, setelah pemilu tahun 2024 program MBG benar-benar terealisasikan. Melihat besar manfaat dan mudharatnya mungkin tidak seimbang dengan tujuan awalnya. Lebih dari sebelumnya, justru setiap jajaran yang ada di negeri ini dipaksa memaklumi keputusan yang belum tepat. Terkadang posisi sekolah juga serba salah antara mau menerima dan menolaknya. Jika diterima, sudah jelas petugas SPPG tidak mungkin bisa menyalurkan langsung pada siswa, otomatis minta bantuan gurunya. Jika ditolak, sekolah kena protes juga dari orang tua 'mengapa sekolah tidak menerima program MBG'. Hari-hari para guru dihantui pesan-pesan wali murid yang terkadang lebih mengkhawatirkan makanan yang masuk di tubuh anaknya daripada ilmu dan perkembangan belajarnya saat di sekolah. Kita tahu, kondisi setiap sekolah berbeda-beda mulai dari sistemnya, lingkungannya, siswanya, juga SDM gurunya sangat memengaruhi keseluruhan. Jika urusan pendidikan saja evaluasinya masih banyak, kenapa urusan MBG turut menjadi problem krusial di tengah-tengah lembagaa.
Saya tidak hanya kehilangan raut kegembiraan siswa saat tidak mendapat bekal dari ibunya. Tapi saya juga menangkap hilangnya hal-hal basic yang dulu mudah sekali didapatkan anak-anak dan kini perlahan ikut hilang dengan rasanya.
Saat MBG libur, mereka kembali mendapat bekal dari orang tuanya. Jam istirahat bisa benar-benar menjadi jam istirahat untuk siswa dan guru. Tanpa adanya bayang-bayangan nasi belum diambil, ompreng belum ditali, ompreng belum lengkap, atau satu dua ompreng yang hilang dan harus ganti rugi.
Dan pagi tadi, kabar MBG terlintas dijudul file PDF berisikan surat pernyataan ketersediaan sekolah untuk benar-benar menerima MBG.
Selamatt, dunia memang tempatnya bercanda untuk orang-orang serius seperti ini haha.
Ahh, yang belum tahu ini namanya banyak sambatttt

0 Komentar