“apa yang kamu ketahui tentang makna sedulur dan sesrawungan?”
Banyak orang mengatakan, mengedepankan rasa paseduluran terhadap orang lain merupakan tingkah laku mulia yang penting untuk dibangun, yang kelak akan menjadi salah satu tombak benderang dalam kehidupan manusia. Susah senang menjadi aliran darah sendiri dalam serat jernih entri di dalam tubuh manusia, dan menjadi dogma positif untuk kemaslahatan publik, tidak sebaliknya.
Tidak jauh dari itu, pertanyaan ganjil terkadang muncul dalam benak, sedalam itukah rasa paseduluran yang harus kita bangun terhadap orang lain? dan jawabannya adalah “iya”
Sebab, Islam merupakan agama rahmatan lil alamin dimana semua manusia tidak lagi menganggap perbedaan menjadi permasalahan krusial. Sejauh apa yang saya ketahui menyematkan rasa sedulur terhadap siapapun menyelam begitu saja pada tabiat orang Jawa. Mengetahui maknanya secara dalam ataupun tidak, sikap paseduluran tidak lagi identik dengan hubungan saudara sedarah, hubungan kakak beradik, tunggal mbah, tunggal buyut, tunggal canggah tidak lagi seperti itu melainkan menanamkan soal “rasa” –inti- dari memandang manusia tidak lagi orang lain namun menjadikannya sebagai dirinya sendiri yang layak untuk diperhatikan dan dicintai.
Bangsa Jawa sering melagamkan konsep “ olah rasa”, “ rasa-pangrasa”, “ rumangsa” atau “ ilmu rasa”. Lema ini telah menyatu dengan skema budaya Jawa bahkan oleh masyarakat Indonesia, tidak lain jauh dari kata “ ra(h)sa” alias rahasia menjadi titik pusat pertaruhan perjalanan seseorang dalam mencari makna kehidupan yang samar dan tersembuyi.
Sikap paseduluran yang diajarkan Jawa Kuno yakni dapat bertindak sederhana, jujur, saling membantu, toleransi, dapat menjauhi perkara yang keji dan mungkar. Dengan rasa kepedulian yang tinggi seseorang diharapkan mampu mencapai pemaknaan kehidupan yang melekat dengan jadi diri seseorang.
Selain merekatkan paseduluran sikap sesrawungan menjadi penting dalam hubungan interaksi sosial. Orang Jawa sering berkilah “Ora Srawung uripmu suwung” seseorang yang tidak ingin dan tidak dapat bergaul dengan sanak saudara, teman maupun dengan tetangga mengakibatkan kehidupan mereka akan dilanda kehampaan, tidak akan disapa atau ditilik dengan orang lain. Tidak lebih sikap srawung menjadi pola dasar etika seseorang dalam menjalani kehidupan.
Pendalaman makna sedulur dan sesrawungan akan lebih mudah jika segala bentuk teori Jawa dapat kita tampung dalam sekali duduk, mengenalnya dalam satu kedipan mata kemudian menyatu pada tiap-tiap sel tubuh manusia. Sayangnya, kultur budaya memiliki unsur-unsur tersirat yang tidak mampu diperoleh pada satu orang saja. Perlu adanya wawasan yang lebih luas, jauh serta dalam untuk mengenalnya. Dan, saya merupakan salah satu insan yang selalu diuji pada dua hal tersebut setiap hari, setiap waktu bahkan setiap denyut nafas ini masih terus berhembus eakk.
Kerap kali orang lain menganggap saya adalah penampakan dari wujudnya kaum introvert, yang lebih mengarah terhadap ketidakpedulian. Secara tidak langsung kepribadian saya dicerminkan “rasa” yang belum berhasil timbul di permukaan. Sedangkan saya sendiri, tidak masalah dengan anggapan seperti itu jika tiga banding satu sedang berujar sama, apa yang harus dipermasalahkan? Mungkin memang benar, dalam diri saya terdapat permasalahan yang serius.
Saya sering dianggap tidak peka terhadap situasi keadaan, entah dari mana dan sejak kapan istilah tersebut dimulai, sungguh keganjalan tersebut pernah merundung psikis saya. Bagaimana tidak gemerlap dunia mendadak menjadi musuh yang datang silih barganti, untungnya sehari dua hari anggapan mereka kabur begitu saja bersamaan dengan sikap ketidakpedulian saya tersebut.
Namun, kegelapan yang dirintis orang lain terhadap kata ketidakpedulian memiliki makna berbeda bagi saya. Menurut saya bentuk ketidakpeduliaan yang tampak pada permukaan bukanlah klasifikasi nyata dalam jati diri seseorang. Menyesap makna “ra(h)sa” harus tenggelam dalam ruh-ruh yang ada pada diri seseorang, yang dapat dicapai dengan penyelarasaan makna kasih dan tidak hanya dapat dilakukan secara tampak pada permukaan. Jika benar “ilmu olah rasa” tidak mampu menyerap dalam kepribadian saya bagaimana dengan makna membumikan rasa melangitkan cinta?
Apa yang harusnya dipendam dalam suka cita terhadap welas asih pada sesama? yang dapat diaplikasikan dengan dasar cinta yang meluap. Jauh di dasar sana, kesederhanaan seseorang meminang dua hal tersebut kerap mengalami kesulitan atas nama rela yang masih tersekat dalam batas ketidakmampuan. Namun, akan menjadi kepribadian yang agung ketika pola latihan yang terbentuk tidak mengikis rasa suka cita pada tindak lakunya.
Wallahu a’lam bish shawab
0 Komentar