Akhir-akhir ini ketika mushola depan pesantren diramaikan oleh anak-anak desa setempat, kegirangan mereka menyambut waktu maghrib mendatangkan kegembiraan tersendiri bagi orang yang menyaksikannya. Penampakan yang jarang saya temui setelah sembilan tahun yang lalu, mengalir begitu saja di hadapan saya. Di balik kegirangan mereka untuk berangkat ke mushola saya kira terdapat kekuatan batin yang sungguh luar biasa yang sulit untuk dijabarkan dengan kata.
Dahulu ketika saya masih kecil, kegiatan ngaji bakda maghrib menjadi prioritas utama bagi saya dan teman-teman. Bisa atau tidak, lancar atupun harus tersendat bukan menjadi penghalang bagi kami untuk berangkat ke mushola lebih awal sebelum jam maghrib dikumandangkan. Secara tidak langsung bertemu dengan banyak teman menjadikan kita paham budaya toleransi dan bergaul dengan orang lain sedari kecil, tentunya hal ini akan lebih mudah terbangun pada rutinitas ngaji.
Suatu saat, ketika saya menduduki kelas lima sekolah dasar, saya berhasil mengkhatamkan al-Qur’an untuk pertama kalinya. Kabar ini menjadi berita yang membahagiakan bagi semua orang. Ibu datang ke mushola dengan membawa nasi kotak yang di atasnya diberi print foto saya yang nyengirnya setengah-setengah disertai tulisan ‘syukuran khataman al-Qur’an’ saya sendiri tidak menduga datangya nasi kotak tersebut membuat kawan-kawan saya bersorak senang dan merapatkan barisan untuk berdo'a bersama dipimpin oleh seorang ustad. Sampai saat ini saya masih belum berani mengapa ibu sampai nekat memberi foto saya pada bungkus nasi kotak tersebut, yang saya tahu ibu membawanya dengan suka cita dan rasa syukur yang berkali-kali ia haturkan setelah saya pulang dari TPQ. Mungkin kegirangan melihat anak-anak desa berbondong-bondong pergi mengaji sama halnya dengan apa yang saya lakukan dahulu bersama teman-teman. Sama halnya, rasa senang tersebut juga masih terawat pada kampung-kampung tertentu, yang digelar oleh kiai kampung yang dihadiri oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang dilakukan bakda isya setiap pendakkan dino yang telah ditentukan oleh kiai.
Dewasa ini, saya merasa budaya ngaji bandongan tersebut luntur sebab pola hidup manusia yang termakan oleh kehidupan moderitas, satu-satunya tempat yang mampu bertahan seiring berkembangnya Islam adalah pesantren. Pesantren merupakan tempat para santri untuk belajar ilmu agama, dalam pesantren terdapat kiai yang memegang kekuasaan penuh atas kegiatan belajar santri. Tentunya, setiap pesantren menentukan kegiatan pada jam-jam yang telah ditentukan. Skema tersebut sudah terbentuk dengan segala pertimbangan yang akan dijalani para santri untuk ke depannya. Kegiatan selebihnya, tergantung pada setiap santri yang mampu mengatur jadwal belajarnya. Terlebih pada santri mahasiswa, selain memiliki kewajiban untuk kuliah mereka memiliki kewajiban untuk mengaji di pesantren.
Bermain dengan waktu menjadi perihal menarik bagi setiap individu. Persoalan sepele yang terabaikan akan mempengaruhi pada kegiatan lainnya, sungguh pertimbangan lebih menjadi terasa rumit ketika segala bentuk kegiatan dapat dilakukan. Tidak lain dengan saya dan teman-teman santri lainnya, saya kerap menukar jadwal tidur menjadi jam makan, jadwal makan menjadi jam ongkang-ongkang, jadwal dzikiran menjadi jam ngobrol, jadwal ngaji menjadi jam tidur, dan jadwal shalat berjama’ah menjadi jam mandi tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut berputar tidak beraturan pada penepatan jam yang salah.
“Entah berasal dari mana presepsi -azan maghrib menjadi kentongan makan dan mandi para santri- saat di mana waktu sholat seharusnya didirikan”
Sejauh pengamatan saya, waktu maghrib menjadi bentuk lapisan
kegiatan yang tertunda pada kegiatan sebelumnya. Di mana secara bersamaan para santri diminta
untuk berjama’ah, dzikir dan mengaji di tempat yang telah ditentukan, namun
harus terhalang pada kebutuhan individu yang belum sempat terpenuhi. Kecerdasan seseorang tidak hanya terampil pada bidang yang ia
pelajari, menentukan kegiatan urgent dan menyesuaikannya adalah tantangan yang
menarik untuk dicoba. Jika unsur kesengajaan yang dilakukan separuh dari jiwa
pesantren, tentunya kelalaian tersebut berpengaruh terhadap pola subkultur yang
sudah dibangun dalam pesantren.
Dan, yang lebih mengkhawatirkan adalah sikap ‘senang’ yang pernah saya rasakan ketika kecil turut hilang begitu saja dengan pola waktu yang saya desain secara morat-marit, bagaimana jika rasa tersebut dapat dikalahkan dengan anak-anak depan pesantren yang setengah jam sebelum pelaksanaan sholat maghrib sudah lebih dahulu berangkat ke mushola.
Ketika menjelang jadwal ngaji menjadi musuh terberat dalam masa kesantrian saya. Seolah-olah saya sudah terjun dalam jurang yang menjadikan jam ngaji menjadi puncak dari segala pelampiasan kelelahan. Lalu mana yang lebih unggul dibanding seorang di luar pesantren yang jeli dalam memprioritaskan disiplin dengan waktu.
Dahulu, sepulang dari ngaji saya suka membagi cerita kepada ibu, meskipun hanya sekedar berbagi peristiwa dajjal, ritualnya Abdul Muthalib saat Mekkah diserang pasukan gajah, ataupun kegagalan saya dalam belajar mengejrah huruf hijaiyah, hal tersebut tidak menurunkan rasa senang saya ketika hendak berangkat ke mushola. Jika rancaunya jadwal-jadwal kegiatan dapat menjadikan rasa senang tersebut hilang dan menjadikan akal buntu saya yang tidak genap menjadi semakin prepet, bagaimana saya dapat membawa pesan penting seletah pengajian tersebut berakhir?.
Wallahu a’lam bish shawab

0 Komentar