“ Jika kelak kalian terjun di dunia luar, di mana pun kalian berada jangan pernah kalian menjatuhkan orang lain demi kebaikan diri sendiri”
Pesan tersebut adalah salah satu nasihat pak Armand ketika saya dan teman-teman pamit undur diri dari kegiatan magang di Gesma Fm. Menjadi orang baru bukanlah hal yang mudah bagi saya, apalagi terkait dengan pekerjaan. Bayangan tugas-tugas dan berbagai macam karakter para senior merajut perlahan di ambang ubun-ubun saya. Dua bulan bukanlan waktu yang singkat dalam sebuah pembelajaran, menyelami mengimbangi mereka adalah suatu proses penyamaan rasa.
Waktu itu teori adab-adab berkomunikasi mendadak berurutan menyapa mereka. Di tengah pandemi kemarin saya resmi beralih menjadi mahasiswa semester setengah akhir. Hal ini membuat saya menghitung belasan kali dalam sehari menampar diri bahwa satu mata kuliah yang tersisa bukanlah suatu proses pemberhentian mahasiswa dalam bertugas, melainkan harus melangkah jauh dari itu.
Di awali dengan batalnya rencana KKL anak KPI awal tahun kemarin, wacana dua semester kedepan bisa jadi di ambang was-was bagi mahasiswa. Benar, tidak ada yang meminta akan wabah ini. Menjalankan agenda di masa pandemi pun mendadak menjadikan kita semua mengenal kata pasrah dan terus melakukan ikhtiar.
Di saat sebagian jalan masih menutup diri dengan besi kuatnya, saya benar-benar menemukan kesunyian dalam perjalanan.
Kabar pandemi masih menjelma menjadi kabar yang menakutkan bagi masyarakat. Hingga datangnya dalih new normal, mulai dibukanya tempat umum, ramainya jalanan dan kegiatan-kegiatan masyarakat yang mulai di laksanakan kembali.
Saat itu, harapan kami mencari lembaga yang diminati bukan lagi menjadi prioritas utama. Dapat diterima di tengah-tengah masa sulit dan mampu mengabdi pada salah satu perusahaan, sudah menjadi keberuntungan tersendiri bagi kami. Hal ini dapat menjadikan pelajaran bagi saya, bahwa tidak semua keinginan dapat kita gali untuk dicapai, terkadang berhenti dan menemukan titik manfaat lebih utama dari pada mementingkan ego dan gengsi kepada orang lain.
Sebelumnya, pernah suatu kali kakak tingkat berkisah mengenai kondisinya menjadi mahasiswa setengah tua. Dalam benak orang, menjadi anak komunikasi bukan hanya pandai dalam hal sesrawungan namun juga pandai dalam hal teknologi dan update dengan segala hal Informasi. Iya, kami mahasiswa memang dituntut dengan itu. Namun dalam nadanya, ia merasa kecewa dengan teman-temannya. Banyak teman jika pada akhirnya membentuk sebuah geng bukanlah perihal ringan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari. Jika suatu saat sengketa tiba-tiba menjajah di dalamnya, lebih kepada penghianatan, hal ini menjadi kedok diamnya suatu hubungan pertemanan. Ia membuktikan hal ini menjadi titik awal perjuangannya sebagai mahasiswa individu bukan lagi tentang kesenangan.
Ia berkilah kepada saya untuk berteman kepada siapa saja, kepada golongan mana saja, namun jangan pernah membentuk suatu kelompok yang dapat memisahkan kita pada kelompok lainnya. Tidak jauh dari sana, saya menemuinya kembali dari teman saya. Kebanyakan manusia memang minim atas hal tersebut, terlambat sadar sebelum waktu terlebih dahulu menelan tingkah kita.
Di hadapkan pada dunia luar, menjadikan saya mengulangi pertanyaan yang sama ketika memilih jurusan akan masuk sebuah perguruan tinggi. Sejauh ini, saya telah menobatkan sebagai mahasiswa apa? Merasa tidak percaya diri dan insecure adalah masalah umum bagi sebagaian mahasiswa. Tidak semudah membalikkan telapak tangan hal ini rupanya juga menyerang jiwa-jiwa teman saya ketika kewajiban memaksa kita untuk menyelam lebih jauh pada hakikat hidup sebenarnya.
Tujuh bulan pandemi ini, dua bulannya saya diberi kesempatan untuk mengenal Gesma FM lebih jauh. Mungkin sebagian mahasiswa akan merasa biasa-biasa saja dalam situasi seperti ini.
Namun, hari pertama saya berkunjung pada sebuah instansi baru, adalah suatu hal yang menegangkan bagi saya. Bagaimana tidak? Kepanikan terlebih dahulu menghujam akal pikiran. Segala bentuk persiapan diri telah tuntas pada malam hari. Beberapa lembar baju terjejer lantai pagi itu, seolah-olah saya memang sedang mengunjungi acara penting.
Tiga bulan sebelum pelaksanaan magang, dalam kelas peminatan seorang dosen sempat memberikan saya dan teman-teman nasihat tentang kegiatan magang. Kami yang berjumlah tidak lebih dari sepuluh orang dengan seksama menyimaknya. Dosen tersebut membawa kisah kakak kelas kami kemudian memberikan cara unik untuk mengenang pengalaman ini, yaitu menulis diary tentang magang. Hal tersebut saya lakukan, demi mendongkrak dan menyelami rasa kepada rekan-rekan magang, saya mencatatnya dalam sebuah buku merah yang saya beli pasca kunjungan pertama tersebut.
Seperti dalam kutipan dari buku Yang Bijak Dari M. Quraish Shihab “ Hari-hari yang dialami manusia ada dua macam; menyenangkan dan menyusahkan. Jika menyenangkan janganlah berbuat angkuh sedangkan ketika susah maka bersabarlah dan jangan berputus asa- karena keduanya pasti akan berlalu”
Makna keduanya sering saya temui ketika menjalani kegiatan di Gesma FM, stasiun radio ini mendadak menjadi pesantren kedua bagi saya. Jika saya mendapatkan pelajaran akhlak dalam pesantren saat ini, saya mendapatkan pengalaman berharga mengenai hal serupa di Gesma. Senang? Tentu iya, bertemu dengan orang-orang ramah dan berwawasan luas dapat membidik rasa kita lebih jauh lagi dalam rasa “saling”dalam hal apapun.
Susah? Pasti.
Malam senin pada minggu kedua, pembagian tugas tersebar kepada kami. Saya yang diposisikan sebagai editing typing merasa takut dan bingung harus mengawalinya. Saya berhasil melobi senior dan dalam pembelajaran ini. Mudah, namun bukan saya jika kepanikan tidak mendera akal pikiran saya. Sebelumnya, berbagai macam pembelajaran pembuatan naskah menderai penasaran dalam diri saya. Berfikir kreatif adalah tuntutan bagi kami. Bukan pada bahan apa yang kita tuju namun lebih pada kenyamanan pendengar dalam setiap konten yang kami berikan. Kepura-puraan dan keramahan memaksa saya mengatasinya dalam pembuatan naskah siaran. Menyatukan jiwa orang lain dalam diri seorang pembuat naskah bukanlah serupa transkip kata dari orang tersebut, namun menjelma karakter dan menyusuri ruang terdalam dan rasa nyamanlah yang membawa kita diujung persamaan. Hal ini menjadi menarik bagi saya, ketika tidak sedikit pula kesalahan mencerca keliru pada kalimat-kalimat saya.
Kesulitan pasti melanda setiap insan yang bernafas, jika kita melibatkan berburuk sangka pada kehidupan diri sendiri tidak lain dengan halnya jari-jari yang menggenggam lautan. Setiap kesulitan pasti ada jalannya, hanya tinggal kita ingin melangkah lebih jauh untuk belajar atau tetap berdiri mengemban tugas yang tidak kita mengerti.
Berbagai nasihat menggelegarkan sikap optimis, bahkan yang paling sering teringai dalam rekaman otak saya adalah kata-kata dalam cover majmu’ santri yang berisikan “ Iso ora iso sing penting : sekolah, jama’ah, apalan, musyawarah kanthi istiqomah” tidak lain dengan cover lainnya yakni, “ dadi santri ojo wedian, kagetan, lan gumunan”
Di Gesma fm saya dengan sumringah menjumpainya. Dua minggu sekali kita melakukan rapat, forum santai namun serius itu mendidik saya pribadi dalam menyoal bagaimana cara kita selalu mengajak berbuat kebaikan kepada para pendengar. Bukan hanya penegasan terhadap suara yang baik namun juga terhadap suara yang layak yang mampu memainkan kata untuk mereka . Menjadi seorang penyiar membutuhkan penguasaan dalam olah kata, olah suara dan olah rasa. Tiga tahap ini tidak mudah menjalaninya. Kecuali dengan modal minat belajar yang tinggi, berdiskusi dengan orang lain, serta memiliki jiwa telaten dalam mengasah diri. Awalnya saya sempat memberontak dalam diri saya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol megapa peroses magang harus dilaksanakan dua bulan? sedangkan pada kegiatan KKN hanya satu bulan? ternyata ini jawabannya, saya tidak akan mampu mengulas lebih panjang bagaimana kisah menyelam dalam dunia nyata yang faktanya lebih jauh diambang dari kata kesenangan.

0 Komentar