Yang Wajib Dari Cinta Adalah Mesra

Yang wajib dari hujan adalah basah //Yang wajib dari basah adalah tanah//Yang wajib dari tanah adalah hutan//Yang wajib dari hutan adalah tanam//Yang wajib dari tanam adalah tekad//Yang wajib dari tekad adalah hati//Yang wajib dari hati adalah kata//Yang wajib dari kata adalah tanya//Yang wajib dari tanya adalah kita//Yang wajib dari kita adalah cinta//Yang wajib dari cinta adalah mesra//Yang wajib dari mesra adalah rasa//Yang tak wajib dari rasa adalah luka//Adalah luka

 

Pada lagu di atas merupakan lagu yang dibawakan dari proyek musik sisir tanah, kita diulaskan pada kesederhanaan dalam merajut harapan,mengamalkan kebaikan kepada kerabat, kepada orang tua, kepada tetangga, dan kepada siapa saja. Ditunjukkan bagaimana cara kita dapat merawat rasa untuk bisa saling mencintai, untuk bisa saling peduli, saling memaafkan dan saling menanam bibit-bibit elok.

Namun banyak dari kita yang terlampau jauh dan tak pernah sungguh membidik rasa merdeka pada kedua orang tua, pada kerabat bahkan pada sesama teman. Banyak dari kita yang tak mampu menghormati, tak lagi mampu menjaga dan memuliakan hak-hak orang lain. 

Jika pada basah ada duka yang menggunung,pada hitam pekat terdapat kerut yang membungkus urat nadi, pada gemertak gigi terdapat rindu yang menjelajahi. Manusia tetap akan menjadi kerdil ketika buaian air mata itu lebih menyenangkan dari pada menjelma lupa pada bibit tanam yang tersiram subur.

Tiga pekan yang lalu di jalan raya Solo-Jogja. Pada salah satu lampu merah di daerah Klaten terdapat seorang laki-laki paruh baya yang sesekali menolehkan kepalanya pada deretan manusia yang berbaris rapi di belakang garis putih di atas bau aspal yang mulai menguap panas. Kardus berat masih mengikat jok belakang, memang tidak dilepaskannya dengan masih mengharap uluran kasih pada puluhan pasang mata yang masih berpagar di tiap-tiap kendaraan.  Nihil, manusia telah banyak menyaksikan namun buta pada rasa mesra yang harusnya dibangun, menggusur rasa gengsi yang menjamur di setiap sel-sel jiwa yang mati. 

Seseorang bisa saja berubah dalam keadaan apapun di manapun dan kapanpun. Bahkan hubungan keluarga bisa saja retak hanya gara-gara tidak adanya rasa harmonis yang dibangun pada kedua orang tua dan anak-anaknya.Di bangku pawon saya kembali menyaksikan kisah pilu mbah-mbah yang membendungnya dengan balasan doa terbaik kepada saya.

Di luar sana banyak duka yang tidak sengaja dirintis oleh orang-orang sepah yang mendesahkan lelah pada kedua kaki yang dilipatnya dan meredamkan kepala pada apitan lengan kurusnya. Kebahagiaan seseorang memang tidak bisa diukur dengan meteri. Sekalipun kita memupuk kebaikan terhadap sesama, kepada orang tua dan kerabat masih menjadi kunci kesejahteraan umat manusia.

Jika kepada orang tua kita tidak memiliki harapan akan kebaikan suatu masa depan, setidaknya berjuang dan memaafkan merupakan jalan realita yang seharusnya ditempuh. Jika memang pendidikan kita lebih tinggi,lebih mengetahui dan lebih paham dari mereka, ketahuilah orang tua tetap akan menang akan sebuah pengalaman. Bukan pada segenggam tanah kita harus mengabdi, mengapa seonggok mangkok dapat menyekat rasa kasih terhadap kerabat dan kepada orang tua. Ketika kita yang sudah dijamin, namun banyak dari kita yang tega menghianati.

Ramadhan kemarin, salah satu penjelasan yang saya ingat ketika mengikuti ngaos online pada penjelasan mengenai hak-hak kerabat. Sebelumnya terdapat bab hak-hak kedua orang tua dan setelahnya terdapat hak-hak kepada tetangga. pasca itu terdapat bab tentang tata cara srawungan kepada sesama, hal ini mampu menampar saya bolak-balik. Bagaimana tidak, penjelasan kata "ah" atau "hus" tidak sesederhana saat kita menafsirkan tentang penolakan perintah kedua orang tua. Melainkan lebih memandang bagaimana perilaku kita ketika mereka kelak akan mengalami usia rentan seperti keluh kesah mbah-mbah yang sebelumnya mampir di pawon rumah.

Apa kita mampu melayani tanpa meninggalkan rasa ngersulo? saat ini, mungkin kita bisa menjawab " tentu saja bisa, mereka adalah orang tua kita". Namun ketika banyak hal yang harus kita lakukan, mungkinkah rasa nggresulo itu tidak hadir?

Upah dari seorang ibu yang melahirkan adalah surga, akan mendapat tiga kali lipat ketika kita memuliakan seorang ibu. Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tua, namun kita perlu sadar bahwa wajib bagi kita untuk mengingat nikmat-nikmat Allah melalui kedua orang tua. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua.

Kemudian dalam ngaos online tersebut kembali diceritakan terdapat kisah seorang laki-laki tua yang sangat masyhur dengan sifat alim dan amanahnya. Suatu ketika kealiman dan sikap amanah laki-laki tua tersebut terdengar sampai negeri seberang.  Selepas menjalankan sholat subuh berjama’ah pintu rumah laki-laki tua itu  diundang dari luar.

“ Anda siapa tuan dan apa tujuan tuan singgah di gubuk saya ini” tanya laki-laki tua tersebut setelah menjawab salam dari tamunya.

“ saya pemuda dari negeri seberang, saya mendengar kabar anda merupakan orang amanah dan alim, untuk itu saya hadir di sini ingin menitipkan sebagian harta saya kepada anda. Jalan akan membawa saya ke kota mulia untuk menunaikan ibadah haji di sana”

Laki-laki tua yang berbudi pekerti baik itu mempersilahkan pemuda tersebut menitipkan hartanya sebanyak 10.000 dinar. Kemudian pemuda tersebut pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Mekkah, setelah satu bulan lamanya pemuda tersebut kembali mengunjungi rumah laki-laki tua itu. Diucapkannya salam di ambang pintu yang pernah ia kunjungi sebulan yang lalu. salam dan sapanya tidak terjawab dan  kedatangannya tidak kunjung disambut. Pintu rumah laki-laki tua itu tertutup rapat. Halaman rumahnya pun terlihat usang dan berserakan daun-daun kering.

Pada akhirnya pemuda tersebut bertanya kepada tuan yang tinggal di dekat rumah laki-laki tua itu. Dan dikabarkan ternyata laki-laki tua yang masyhur dengan sikap amanah dan alim kini telah meninggal.

 Kemudian pemuda tersebut  ditunjukannya kepada anak dari pak tua itu, jawabnnya pun tidak membuahkan hasil, putra dari laki-laki amanah dan alim itu tidak  mengetahui di mana ayahnya menyimpan harta milik pemuda tersebut. Hingga akhirnya pemuda tersebut memutuskan sowan kepada seorang Kyai mengadukan masalah atas harta yang dititipkannya.

Kemudian Kyai tersebut menyarankan untuk pergi ke sumur zam-zam dan berseru untuk memanggil laki-laki tua itu.  Dengan rasa setengah was-was, pemuda tersebut terus memanggil tujuannya hingga tiga hari lamanya namun panggilan dan salamnya tidak dijawab oleh tuannya, akhirnya pemuda tersebut kembali mengadukan kepada Kyai tadi. Setelah mendapat kabar, Kyai tersebut terkejut. Dengan rasa tidak percaya ia kembali menyarankan pemuda itu untuk pergi ke Yaman, tepatnya menuju di sumur Barhut. Di sanalah ia kembali memanggil nama pak tua itu, di panggil berulangkali dan terdengarlah jawaban dari bawah tanah. Pemuda tersebut senang dan kembali menyaut jawaban laki-laki tua itu.

“ wahai pak tua saya pemuda yang pernah menitipkan uang 10.000 dinar kepada anda, saya mencari anda beberapa hari dan mendapat kabar bahwasannya anda sudah wafat, saya tanya kepada putra anda ia pun tidak mengetahui di mana anda menyimpan harta itu”

“jangan khawatir tuan, harta anda aman. Kembalilah ke rumah saya, galilah tanah yang berada di kamar saya. Di sanalah saya menyimpan harta tuan. Tidak ada yang tahu kecuali saya dan Allah Swt”

“ Alhamdulillah, terimakasih atas bantuannya pak tua. Namun saya ingin bertanya mengapa anda bisa di sini, bukankah di sini merupakan jalur untuk menuju neraka.” tanya pemuda tersebut dengan hati-hati

“ iya tuan, anda benar saya sedang berada di jalur menuju neraka”

“ apa yang terjadi? bukankah anda orang yang alim serta amanah?”

“ menjadi amanah ataupun alim bukanlah kunci dari keselamatan tuan. Saya melupakan sesuatu tuan, dulu ketika di dunia saya masih memiliki dendam dan bermusuhan kepada saudara saya. Di mana diantara kita tidak lagi bersua dan menyapa seperti dulu ketika kami kecil”

Ketika seseorang diwajibkan untuk menjaga hak-hak orang lain, diwajibkan menyambung tali persaudaraan dan tetap menjaga ketawadu’an. Banyak pula dari kita yang melalaikannya, tidak lagi membangun kata dalam tanya, tidak ada lagi rasa cinta dalam rasa.

Ketika suatu sengketa sudah menyelimuti akar dari hati nurani untuk menyelami luka, seseorang tidak lagi paham bahwa mereka adalah orangtuamu mereka adalah saudaramu dan kita juga manusia. Perlu kita renungkan bahwa kita tidak diwajibkan atas rasa luka yang kita perlambat dengan sendirinya.

 

Posting Komentar

0 Komentar