Pagi itu terasa gundah, panikku tidak lagi tentang job hari ini dan hari selanjutnya. Melainkan si Epong yang terkulai lemas di sudut rumahnya. Kedua matanya meronta untuk menangis, namun ketidakberdayaannya menghempas nafas yang terselebung pada paru-parunya. Aku mencoba merayunya dengan menjajaki anak tangga menuju atap pesantren, aku beri kembali kesempatan yang lama tidak ia sua mungkin saja ia sedang membutuhkannya.
"Terlambat " responnya begitu acuh melihat gelisahku yang tidak tepat.
Segala umpatan menghantam pendengaranku sedangkan ia hanya bergerak sebentar untuk menghindar sentuhanku.
" Mbok uis leh mutung to" bisikku sambil mengelus ubun kepalanya. Tetap saja, selamanya mulut itu tidak akan membentuk kapal perahu untukku. Mungkin ia sedang kedinginan, atau tidak ia sedang mengalami pingsan, dugaanku sekedar menenangkan.
Kain sisa tambalan kasur aku tarik kembali untuk menyelimutinya. Wajahnya belum pucat, belum juga terlihat kaku, hanya lemas dan tidak lagi berkedip. Sore ini, tidak cuma-cuma aku mengintipnya dibalik singgasana di atas bukit jendela dunia itu. Bendungan air matanya tidak lagi terlihat olehku, sedikit menyipit membeku dan mengeriput utungnya tidak ada uban di antara terumpung dan lengan tangannya yang membuat kesan dia sudah tua.
Namun,di hari ini ia resmi delapan bulan bersamaku. Berhenti mendaki pada terumpung Epeng, berhenti mencoba mendaki ruas batu-batu di dinding berlumut, dan berhenti memaku untuk membebaskan diri. Orang-orang berangsur merasakan duka Epeng dan ikut menyaksikan proses pemakamannya. Tidak begitu khidmad namun disusun dengan iba yang bertubi-tubi.
Selamat jalan kura-kura betinaku

0 Komentar