Selepas ngaji malam, aku biasa merakit tangga dan berjalan merunduk untuk bisa menjumpai malam di loteng pesantren. Di sana aku membiarkan pikiranku berkeliaran bebas, merenung tentang duka ibu yang sangat dibenci bapak juga dukaku yang bergemuruh minta untuk diselamatkan. Kata mbah tetanggaku, aku bukan anak ibu dan bapak. Ibu membeliku dari tukang rosok yang menemukanku di pinggiran toko. Ibu yang tidak dapat memberikan bapak anak sangat senang diberi kesempatan untuk merawatku, tidak dengan bapak. Ketika tangisku mulai berani menyentuh sel-sel rumah, saat itu bapak membenci aku dan membenci ibu.
Aku dibesarkan dengan kasih sayang ibu dan rasa amarah bapak. Sejak umur dua tahun aku sudah mengerti apa arti merah yang membekas di punggung tangan ibu dan panas yang merembet di wajahku. Salah atau benar pukulan bapak secepat mungkin mendarat di tubuh kami, hingga akhirnya sejak lulus sekolah dasar ibu menitipkan aku di Pondok Pesantren An-Najah milik kyai Usman. Ibu meraung tidak tega membiarkan aku menanggung beban sendiri di pesantren, aku menenangkannya karena aku tahu bapak tidak pernah mengharapkan aku hidup di tengah keluarga mereka. Jika aku jauh dari ibu, setidaknya ia tidak lagi dibenci oleh bapak.
Menjelang asar aku selalu berharap kepada kantor pengurus yang memanggil namaku untuk segera menuju ruang sambangan. Sejauh mana aku menunggu ibu, aku tahu bapak tidak akan mengizinkan ibu untuk bertemu lagi denganku. Hingga akhirnya aku selalu mengadu rasa pada loteng pesantren yang menerimaku dengan semua laraku.
BENAR, enam bulan aku menunggu ibu datang mengunjungiku dan membawakan rendang lapis kesukaanku. Nahas harapan itu musnah terbentur gerbang pesantren. Aku rindu belaian ibu, tentu kangen dengan pukulan bapak pada punggungku. Kenapa bapak harus membenciku, jika aku bukan anaknya setidaknya ia beri tahu aku jika aku bukan darah dagingnya. Mengapa harus marah seolah apa yang aku perbuat selalu salah. Selama ini air mataku seperti kering, mentalku terlatih ketika bapak berulang kali menghardik ibu dan memukulku. Aku menerima pukulan bapak yang keras dan rasa sakitnya seperti belaian kasih ibu terhadapku, yang tidak aku terima dari bapak adalah tangis dari perempuan paruh baya itu, darahku terhenti ketika ibu mengadu rasa kepada Tuhan. Kenapa bapak hanya melihat kesalahan ibu? bukan kelembutan hati dan tekadnya untuk tetap mengabdi kepadanya.
Ibu merupakan perempuan 49 tahun yang merancang hidupnya dengan ketulusan. Ia selalu mengajarkanku ramah terhadap siapapun termasuk terhadap bapak. Ibu orang desa kuno yang dikuatkan dengan sikap kasar bapak. Selepas maghrib lingkar hitam di bawah matanya akan tampak kelihatan dengan pantulan cahaya lelah. Waktu kecil, aku pernah terbangun dalam tidurku, dengan lunglai aku menyaksikan ibu menangis tersedu di atas sajadah lusuhnya. Doanya sungguh menjadikan aku kecil ikutan menangis iba terhadap ibu, ibu terkejut mendengar suaraku tidak lama bapak terbangun dan menampar mulutku dan menghardikku berulang kali.
Setiap pagi aku ijin tidak mengikuti pengajian wekton, aku sowan kepada Kyai Usman bahwa aku ingin membantu ibu-ibu desa untuk mengurus kebun pesantren. Aku tidak memiliki uang untuk membayar administrasi pesantren namun aku ingin tetap berada di atap ini. Pak Kyai memperbolehkanku dengan syarat, ketika ngaji sore dan malam kedua mataku harus terbuka dan harus giat belajar dengan sungguh-sungguh akupun mengagguk senang dan melupakan dukaku sesaat.
Sejak itu aku tidak lagi merasakan kesakitan, apalagi soal ibu yang tidak datang mengunjungiku, hanya saja pada malam aku selalu melukis senyum ibu yang terpaksa melebar pada bibir keringnya. Membayangkan senyuman ibu menganggap surga kecil yang aku inginkan, untuk menuju ke sana aku sedang berpuasa menyaksikan kelembuatan hatinya. Aku tidak lagi menderita rindu kepada ibu karna aku tahu di loteng itu aku dapat melukis senyuman ibu, hingga pada waktu ngaji aku sering diledekin temanku karna aku sering tertawa dan tersenyum sendiri. Jika tidak, diamku melukis wajah ibu yang menangis. Aku tahu, dia bukan ibuku tapi aku sangat berharap dekapannya.
Hingga pada taun keenam untuk pertama kali dan mungkin juga terakhir kalinya namaku dipanggil di kantor sambangan, aku terdiam tidak berkutik. Bibirku pucat, jantungku berhenti berdetak, air mataku mengalir dengan sangat pelan yang menyisakan perih di sudut-sudut mata.
Salam aku ucapkan getir di ambang pintu pengurus, tidak ada wanita paruh baya tidak ada laki-laki garang hanya ada punggung pengurus yang sibuk dengan kertas di tangannya. Hingga pada akhirnya ia menyadari kehadiranku dan memberi aku surat beramplop coklat muda.
Di sana aku bertemu ibu, lingkar hitam di bawah matanya sudah tidak ada hanya tersisa air wudlu yang membasahi wajahnya. Ibu mengenakan baju putih aku menyisihkan sisa gaun ibu yang menjuntai di tanah. Aku mulai mencuci kaki ibu, mencuci kebahagiaanku, aku tahu ia telah tutup usia namun tidak dengan ketulusan dan senyumanya, aku masih berharap dapat bertemu ibu dan membalas budi baiknya.
0 Komentar