PEJALAN



Kita berjalan saja masih,
Terus berjalan
Meskipun kita tak tau
B'rapa jauh, jalan ini nanti
Dan kita tak juga rela tunduk
Pada jarak

Di bangku pawon, dengan ditemani roti kering sisa lebaran kemarin. Saya mencoba memutar kembali lagu-lagu yang sudah saya download dari youtube, setelah memutar lagu 'sampai jadi debu' dari Banda Neira saya kembali dibuat tercekat dengan lirik 'lagu pejalan' dari Sisir Tanah yang ternyata sudah lama publish.

Lagu tersebut mengingatkan saya pada bangku pawon yang saya duduki. Di bangku ini, saya dapat menyaksikan kisah pelik tetangga-tetangga saya entah mereka yang datang mengunjungi rumah atau ibu sendiri yang cerita mengenai perjalanan kisah mereka.

Sebelum isu-isu new normal dijalani oleh sebagian masyarakat, mereka yang kehilangan  pekerjaan sejak pandemi covid-19 berlomba-lomba mencari pekerjaan baru untuk dapat bertahan hidup. Sejak saat itu sebagian pasar ditutup dan sebagian lainnya hanya boleh buka sampai jam 12 siang.

Tidak ada jejeran pedagang kaki lima di pinggir alun-alun kota, tidak ada senyum sumringah dari penjual jajanan di sekolah, dan tidak ada lagi suara riuh di setiap lembaga publik.

Maraknya maling, begal pada saat itu sangat wajar menyebar di setiap sudut daerah. Mereka lebih takut mati karena kelaparan dari pada mati karena terinfeksi virus corona. Bagi mereka, sesuap nasi tetap harus diperjuangkan meskipun segala macam larangan menghantam setiap langkahnya dan  urat leher akan semakin menguat meminta hak mereka tersalurkan di setiap dinding rumah.

Hujan di sore hari, tiba-tiba tanpa sapa mengguyur bumi pasar, bumi para petani, dan bumi para pekerja lainnya.

Merembet dingin pada penjual es yang sedang berteduh di emperan tetangga. Kedua tangannya melingkar mendekap kaki yang ia rapatkan. Saat itu memang sedang bulan Ramadhan, menjajankan es di sore hari memang waktu yang paling tepat, namun tidak dengan air hujan yang lebih dulu mengguyur gerobak dan dirinya sebelum isinya habis terjualkan.

Kebahagian seseorang memang tidak dapat dinilai dari jumlah harta yamg didapatkan. Belum tentu banyak anak dapat menjamin kebahagian di masa tua renta.

Tubuh kurus dengan kulit hitam yang melilit tulang-tulang rapuh akan tetap berjalan menelusuri jalanan di depan rumah warga dengan sesekali menawarkan makanan yang sudah ia racik sejak petang.

Rambut panjang yang berlapis minyak ia gelungkan di kepala bagian atas. Selain mendaki jalan bersama sepeda bututnya, rumah orang kaya masih sempat ia bersihkan. Dia memang sudah tua, tidak ada lagi tanggungan yang harus diselesaikan, tidak ada lagi hal yang perlu di lakukan. Bukankah masa tua tinggal menikmati indahnya hidup. Diam di rumah, dan menanti para buah hati yang datang menghampiri dengan peluh kasih sayang.

Namun hidup memang perihal perjuangan dan perjalanan hidup. Sudah tua pun tidak ada alasan mengapa ia masih tetap tersengal dengan kisah hidupnya.

Lain dari kisah itu. Seorang perempuan yang membawa luka jalan di setiap pagi, bekerja hingga larut malam dengan pulang membawa beberapa lembar uang bernominal kecil dan lelah yang menggunung di bahunya.

Menyaksikan putra dan pasangan hidupnya bertengker di ambang pintu lebih menyedihkan jika perut belum terlilit sebungkus nasi atau segelas air yang dapat menghangatkan telak leher mereka.

Sorot matanya menandakan kegundahan, lepitan lingkar hitam di bawahnya menyeruakkan tangis pilunya, namun tidak sampai terdengar dan dilampiaskan. Ia sangat tinggi menjunjung marwah suaminya, meskipun sekecap kalimat ketus menjadikan kuat untuk merakit dinding rumah.

Laki-laki atau perempuan mereka sama-sama berjuang, sama-sama menelan kepahitan, sama-sama mengukur jarak dengan keringat dan sama-sama membutuhkan minyak gosok di saat malam mulai larut.

Ketika hidup memang sebuah pilihan dan perjuangan, apa daya saya yang masih suka umbelan di saat kertas kosong sedang menanti pena ketekadan dan kesadaran yang menampar bolak balik pilu kelam yang sudah terlanjur terjadi.

"Tangii tangiii, ojo sampek esuk-esuk turu. Gak apik" kata ibu

Posting Komentar

0 Komentar