“Perempatan itu biasa dijadikan tempat doa selepas orang-orang berkunjung dari pemakaman”
Sabtu 23 Mei 2020, laki-laki sepuh itu dengan riang mengayuh sepeda bututnya menuju kediamanan terakhir keluarganya. Di kranjang sepedanya terdapat satu bungkus kresek putih berisikan kembang untuk berziarah kubur dan satu bungkus kresek merah yang ia tali rapat. Raut wajahnya sangat segar, sekali tertawa akan tampak dua gigi yang tersisa di barisan depan. Ketika sampai di tempat tujuan, ia memarkirkan sepedanya di sebuah halaman rumah.
***
Sejak dua bulan kemarin setiap jiwa memang dirudung perasaan was-was. Saat itu, bayangan mengenai ngerinya covid-19 bukan hanya terletak pada tiang-tiang besar di permukaan jalan raya, melainkan virus ini juga menjelma di ruas-ruas pematangan sawah dan pohon-pohon di desa.
Semenjak maraknya hastag IndonesiaTerserah, IndonesiaAmbyar, Indonesiasakkarepmu di twiter Indonesia. Perasaan was-was masyarakat hanya sampai pada pencegahan melalui pemakaian masker. Kejenuhan berlama-lama di rumah menyepakati masyarakat sebelum Hari Raya akan tetap ada tradisi berziarah ke pemakaman. Guna untuk mendoakan bapak, ibu, atau sanak saudara.
Di Kelurahan Bangunsari, RT 05 Caruban Madiun tradisi megengan, weh-weh, dan nyekar masih dilakukan beberapa masyarakat. Pemakaman di sana tiap tahun menjelang lebaran membuat halaman rumah warga penuh akan kendaraan peziarah, kini hanya sampai pada halaman makam saja. Pemakaman ini memang sudah tua kemungkinan satu abad lebih umurnya, saking penuhnya dibuatlah pemakaman baru yang jaraknya 300 meter dari pemakaman utama.
Pagi itu pukul 06.30 WIB di perempatan RT 05 Bangunsari bagian Timur tampak mulut seorang perempuan komat-kamit memanjatkan doa. Ia berjongkok agak lama. Satu dua motor melintas di depannya doanya masih khusyuk ia lantunkan selepas dari pemakaman. Di Perempatan itu tidak jarang kembang untuk ziarah kubur terpapar di sana, satu orang pergi, datang peziarah lainnya dengan tujuan yang sama. Tidak banyak yang tahu manfaat nyekar atau berziarah di jalan pemakaman, dikarenakan penduduk asli kebanyakan sudah meninggal. Konon katanya ini sudah menjadi tradisi dan sebagian peziarah meyakini supaya kembang itu dan do'a-do'a yang dipanjatkan tetap berjalan.
Kondisi saat ini memang seperti disulap. Awalnya jauh di sana 1000 meter dari pemakaman, berulang kali rekaman peringatan dari Bupati Madiun mengalun di setiap telinga yang mendengar. Memasuki waktu maghrib manusia seperti robot yang dinyalakan mesinnya untuk kembali pada rumahnya masing-masing. Meski sebagian masih tercecer di hadapan panggangan roti, duduk di sebelah jejeran kembang api, menunggu pelanggan memesan segelas kopi di sebuah angkringan, atau pedagang lainnya yang lamat-lamat menyaksikan manusia hilang satu per satu. Namun mendekati Hari Raya Idul Fitri, segala larangan tidak mempengaruhi masyarakat dalam menjalankan tradisi-tradisi yang ada. Seperti hanya kegiatan ziarah kubur.
“Pancen wes gak kyok biasane. Abene mobil gede-gede kebak ning ngarepan omah lo” ujar Amriani (48) dengan menata ulang jemuran bajunya.
“La yo, wes prei kabeh iki, sesok bodo piye iki gak sejarah-sejarahan” lanjut Lamini (65)
Tiap hari kamis sore sampai hari jum'at, memang banyak orang yang berziarah di pemakaman Bangunsari, apalagi tiap tahun menjelang hari raya Idul Fitri sampai hari Raya tiba. Halaman rumah Amriani kerap ditumpangi parkir kendaraan oleh para peziarah. Jarak rumahnya dengan pemakaman memang tidak jauh, hanya butuh belasan langkah kaki agar bisa menapaki halaman makam. Pemilik rumah yang berjarak 25 meter dengan makam itu ikut merasakan sedih dengan keadaan saat ini.
"Wes mbah-mbahe do didungakne ng omah dewe. Sepi. Seng nyekar gur daerah kene tok" ujarnya
***
Selepas Misdi (53) pulang dari pasar Gosong, Gemarang, ia meluruskan kedua kakinya di sebuah ruang kamar paling depan. Jarak antara rumahnya dengan pasar Gosong memang memakan waktu satu jam, hal ini sudah dilakukannya selama 15 tahun.
Jalan pegunungan yang relatif naik turun mengantarkan rasa kantuknya ketika sampai di rumah. Hawa dingin lantai rumah lebih dahulu mengundangnya untuk istirahat sebentar. Ketika kedua matanya akan terpejam, tiba-tiba saja namanya dipanggil renyah dari depan rumah.
Mbah Nur (75) memarkirkan sepeda ontelnya di halaman rumah Misdi. Kedua kakinya gemetar menaiki dua anak tangga di emperan rumah Misdi. Pintanya menitipkan sepedanya sebentar, lalu diambilnya kresek putih berisikan kembang untuk nyekar kemudian ia berjalan menuju ke arah utara di mana keluarganya di makamkan di sana.
" Simbahe daleme pundi" Tanya Tari (20) anak dari Misdi dengan memaparkan sandal milik Mbah Nur.
" Klitik nduk" jawab Mbah Nur sambil menuju ke arah sepedanya
" Wah tebeh ngoten mbah"
" Iya, gek iki mau bar nyekar neng sarean,"
Rumah Mbah Nur ada di Desa Klitik, tiga kilo dari pemakaman. Ia menggunakan topi bermotif kotak-kotak, baju batik dan celana tactical pendek, tanpa menggunakan masker dan alat pelindung diri lainnya. Justru kegiatan berziarah inilah yang membuat Mbah Nur bersemangat dan terus melayangkan senyuman ketika mengayuh sepeda, seperti menyuarakan Indonesia tidak apa-apa.
" Mbah Nur iku tukang terapi, neng ndi-ndi ngontel. Ndisek omahe ng kene bapak ibune ng kene keluargane ng kene. Mulane pas meninggal di kuburkan ng kene dadi leh nyekar ya neng kene" tutur Misdi di jalanan pemakaman baru.
" Masio biso ndungakne bapak ibu keluarga neng omah, ning jenenge anak tetep pengen ngerti makam keluargane, ndemek lemahe, nyekar ng kuburane. Ben lueh cedak, ben lueh kroso" lanjutnya dengan perasaan jengkel terhadap aparat Desa yang mengunci rapat desa asalnya.
0 Komentar