Tiga minggu lebih satu hari. Keadaan pesantren benar-benar sepi, pasca perpulangan santri pada bulan lalu. Kegiatan jama’ah hanya tinggal beberapa butir santri yang masih tersisa. Dari 17 kegiatan, hanya kegiatan jama'ah yang masih terlaksana dengan baik, bedanya suara bel pesantren dan seruan pengurus
tidak kembali memekikkan telinga.
Menjelang pagi, suara kasak kusuk sandal santri yang hilir mudik menuju setiap kelas lenyap, tidak jauh berbeda dengan kegiatan malam hari. Saking heningnya, suara tetesan air dari kamar mandi bawahpun terdengar sampai ujung gedung pesantren.
Menjelang pagi, suara kasak kusuk sandal santri yang hilir mudik menuju setiap kelas lenyap, tidak jauh berbeda dengan kegiatan malam hari. Saking heningnya, suara tetesan air dari kamar mandi bawahpun terdengar sampai ujung gedung pesantren.
Belakangan ini dari berita yang beredar, dikeluhkan banyak warga
yang rumahnya kemalingan. Bahkan issuenya, maling yang tercecer di seluruh
pelosok Negeripun melakukan aksi maling serentak di berbagai wilayah. Berita
ini sudah mengudara di berbagai saluran media. Banyak yang beranggapan hal ini
ada kaitannya dengan terjadinya pembebasan napi yang dilakukan oleh pemerintah
pada pekan lalu atau memang si maling memiliki motif tersendiri guna menyerang
pemukiman warga.
Setelah kabar ada dua warga positif covid 19 di daerah dekat
pesantren, kini aksi maling kembali hangat beredar di lingkungan yang juga tak
jauh dari pesantren. Kemarin siang, pemuda desa mulai bergerak mengibarkan
larangan memasuki “wilayah kami” dengan modal beberapa potongan bambu sepuh
yang dirancang untuk dijadikan hiasan di setiap perempatan atau pertigaan jalan
yang menuju desa mereka. Tidak jauh berbeda dengan slogan yang ditawarkan oleh
desa lain, pemuda desa turut menuliskan
“Cegah Covid” pada sebuah lembar kain putih dengan bentuk huruf kapital dan
membingkainya dengan cat hitam, guna menunjukkan bahwa tulisan kapital dengan
boldnya ini, tidak lagi untuk hanya sekedar diremehkan. Bukan hanya mencegah
covid 19 saja, hal ini kemungkinan juga mewanti-wanti adanya maling pada desa
mereka.
Malam setelah pemasangan lockdown di setiap gang masuk desa.
Tiba-tiba saja, santri yang tersisa beberapa telur ayam, kembali
dikejutkan dengan bunyi nyaring. Dipastikan bunyi tersebut berasal dari gerbang pesantren
yang dipaksa pukul oleh seseorang. Secara bersamaan urat leher mereka
mengencang, beberapa pasang bola matapun mendelik disertai degupan jantung yang
tak terkira takutnya. Apakah itu maling? Jika iya, apakah penampilan pesantren
kami kurang mencengkam, dengan gelapnya pelataran dan kosongya kendaraan yang
berada di pesantren.
Tiba-tiba saja, di salah
satu ruangan yang tidak disinari cahaya, kembali mengejutkan penduduk yang
tersisa. Jendela pada ruangan tersebut tidak tertutup rapat mengayunkan salah
satu daunnya dan menghasilkan bunyi yang sama-sama mengerikan. Tidak ada
desiran angin, apa yang membuat daun jendela itu dapat bergoyang? Sungguh
kondisi malam itu hanya kurang maksimal tanpa kehadiran simbah dari lantai
paling atas. Ngawur.
Sebagian santri mengintip dari balkon pesantren. Memastikan siapa
yang menghasilkan suara tersebut. Jalan depan pesantren sepi, hanya saja jalan
diujung pesantren terdapat laki-laki paruh baya yang berjalan menuju ke arah
Timur, tidak lama setelah itu satu persatu kerumpulan laki-laki paruh baya
memenuhi perempatan depan pesantren. Selang beberapa jam kemudian, suara
nyaring itu kembali berbunyi. Woolah jebul ono pak pak ngeronda.
Sambil mringis setelah mengetahui keadaan tersebut, penduduk pesantren
tidak kurang akal guna mewanti kedatangan maling. Dengan cepat, ruang utama
pesantren langsung ditutup rapat-rapat, mematikan seluruh lampunya, dikunci
dari dalam dan mengamankan semua inventaris yang dianggap penting. Bahkan
santri yang berada di kamar bawah rela menggembok pintu kamarnya dan memilih
masuk kamar lewat jendela.
Salah satu santri terperenjat, menyadari bahwa ada sebagian pintu
kamar santri yang belum terkunci dengan rapat. Jika maling benar-benar masuk (jangan
sampai Gusti) dan berusaha mencari sisa barang yang ada di pesantren, kemungkinan
besar nihil menemukan barang pribadi milik santri, dikarenakan para santri
sejak bulan lalu sudah memastikan perpulangan ini hampir sama dengan boyongan.
Sehingga semua barang yang dianggap penting sudah ikut terangkut di rumahnya masing-masing.
Hanya saja yang tidak bisa dibayangkan adalah ekspresi kami ketika bertemu
dengan si maling. harus dengan alat apa kami dapat melawannya?, apakah ia saat
itu kami harus ke lantai atas guna mengambil alat pak tukang kemudian mempause
sebentar adegan tersebut? Kok maleh drama. Ya ndak mungkin. Setelah
memastikan seluruh inventaris pondok aman, solusi yang perlu dipelajari adalah
belajar mempertahankan diri sendiri secara sederhana, entah harus dengan jurus
apa yang kita punya. Namun, hal ini dianggap penting dikarenakan keadaan mendesak
bisa terjadi kapan saja.
Rencananya, pagi ini semua ruangan harus tertutup rapat. Di luar
sana belum banyak suara deruan motor, menandakan aktivitas memang belum banyak
di mulai. Jumlah santri yang tersisa, sebagian keluar memburu perut dan
sebagain lagi memilih melanjutkan tidur ditengah-tengah pandemi. Tinggal satu
santri yang sedari pagi ribet dengan solah tingkahnya. Mungkin akankah lebih
baik jika ia harus memperbaiki salah satu pintu ruangan yang belum terkunci. Pintu
tersebut memang sedikit bermasalah, setelah mengalami pembengkaan beberapa
bulan kemarin, kini gantian bingkai dan daun pintu yang mengalami ketidak
cocokan.
“Klek”
Pintu berhasil terkunci. Suara itu bersamaan dengan senyum simpul
dari santri tersebut. Setelah melakukan beberapa ritual, mulai dari meminjam
alat tukang dan mendesain daun pintu dengan sedikit agak buruk, sehingga membuahkan
keberhasilan yang ia lakukan. Tiba-tiba saja ekspresi santri kembali dikejutkan
dengan gagang pintu yang tidak mau ditarik oleh tuanya. Pintu itu tertutup
rapat persis seperti apa yang ia inginkan. Tidak mau dibuka meskipun sudah mencurahkan
sisa tenaganya.
Lebih konyolnya lagi, santri
tersebut terkunci di dalam ruangan yang lebarnya tidak sampai sepuluh petak. Cahaya
dari ruangan tersebut tidak mau menyala,
dikarenakan bola lampu memang sudah sepuh dan harus diganti. Harus meminta
tolong pada siapa? Jika yang terdengar hanya barisan semut yang berjalan di
etalase dapur pesantren. Bayangannya kembali kepada beberapa tingkah santri yang jarang diakui publik bahwa mereka juga pernah melakukan korupsi atau maling kecil-kecilan seperti melebihi jatah lauk atau mengghosob barang milik santri lain. Saat itulah, santri tersebut mulai sadar bahwa sebaik apapun tempat yang kita huni, pasti akan ditemukan celah untuk melakukan perbuatan maksiat. Terkurung dalam larangan sendiri.
Sebelum pesantren kembali bersuara, tanpa diaba-apa santri
tersebut sudah menelusuri atap ruangan, menyapa jaring laba-laba yang bersarang
dan mengempaskan tubuh pada ujung almari di ruangan utama pesantren. Niatnya untuk
mewanti-wanti adanya maling justru tingkahnya kali ini persis seperti maling. Konyolnya
lagi setelah ia berhasil lolos dari ruangan tersebut, kantung kresek yang berisikan gembok dan kunci kamar-kamar seluruh pesantren
tertinggal di dalamnya.
Apa iya hari selanjutnya, ia akan mengulangi ke-noobannya kembali.

0 Komentar