GARA-GARA COVID 19 : Apa Iya Kita Harus Menunggu Para Muazin Di Setiap Surau Meneteskan Air Mata?






Allahumma shalli ‘ala sayyidina
Muhammadin thibbil qulubi wa dawa-iha
Wa ‘afiyatil abdani wa syifa-iha wa nuril abshori wa dhiya iha
Wa ‘ala alihi wa shobihi wa salim

Saat ini lantunan sholawat thib kerap terdengar di seantero pesantren dan di surau-surau pinggiran desa. Pada tiap-tiap lembaga sekolahpun diajarkan bagaimana cara melantunkan sholawat thibbil qullub dengan harapan supaya segala penyakit dapat tersembuhkan. Bahkan di salah satu pasar di daerah Kartasura lantunan shalawat thibb dapat diwakilkan dengan segerombolan anak muda yang memoles tampilannya dengan sedikit lebih nyantri sambil membawa lodong tanggung yang disodorkan kepada para pengunjung pasar. Sayangnya tampilan pasar kali ini tidak seperti biasanya, hiruk pikuk pasar yang kerap sekali bikin resah, tiba-tiba saja hilang dan hanya tersisa topangan dagu para pedagang di setiap sudut jualannya. Suara gaduh dari setiap  pengunjung pasar tidak kembali terdengar bising. Peristiwa ini seperti disulap, ajaib sekali kondisi saat ini.
Awalnya saya tidak terlalu ngeh dengan adanya issue virus corona yang melanda di berbagai negara. Bahkan bayangan saya, beberapa negara saat ini sedang berjuang melawan virus corona seperti yang dialami oleh serial film-film yang pernah ditayangkan. Terdapat kepanikan masyarakat, pemerintah yang mengambil beberapa keputusan dan beberapa pendapat dari para disiplin ilmu, para ahli medis, juga para ulama yang mengedar di beberapa saluran TV, di kolom-kolom media cetak dan mengudara di berbagai saluran radio.
            Beberapa pekan lalu, ketika wabah virus corona menyebar di Negara China sebagian dari masyarakat kita kerap mengaplikasikan wabah tersebut dengan bualan-bualan yang menggelikan perut publik. Mungkin dibuatnya dengan tujuan untuk mewanti-wanti masyarakat supaya tetap bersikap tenang atau memang sengaja dibuat sebagai rasa balas budi, balas dendam, atau balas jasa kepada warga negara China. Saat itu, pemerintah mulai mengambil beberapa keputusan, salah satunya meminimalisir interaksi antar negara, terkhusus interaksi dengan negara China.
Warga Negara Indonesia yang belajar dan bekerja di China terpaksa dipulangkan dengan serangkaian proses pemeriksaan kesehatan dan observasi di sebuah penampungan selama dua minggu  Hal ini menyebabkan lemahnya perekonomian Indonesia dengan alasan bahwa Negara China merupakan  salah satu mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Namun, yang lebih mengejutkan adalah virus ini bukan lagi hanya soal issue bahkan bualan semata. Virus ini nyata, kedatangannya terlambat diakui oleh negara. Tiba-tiba saja seluruh warga Indonesia dibuat panik bahkan sebagian lainnya telah hilang nyawa sebab virus baru ini.
Beberapa hari lalu instruksi dari pemerintah, gubernur dan bupati semua lembaga yang berkaitan dengan publik harap diliburkan dengan dalih untuk menghindari virus corona. Layangan surat edaran disetiap lembaga mulai beredar, bahkan hastag dirumahsaja sempat masuk tranding topik pada Twitter Indonesia. Jika para pekerja kantoran dan para pelajar telah melakukan tugas mereka dengan sistem daring dari rumah, lalu bagaimana nasib para pedagang tradisional yang  tidak dapat melakukan hal demikian? Bagaimana pula nasib para petani yang hanya mengantugkan nasib mereka terhadap satu petak sawahnya. Bukan hanya pasar dan lembaga-lembaga saja yang sepi, di setiap tempat ibadahpun jama’ah mulai bisa dihitung dengan jari.
Rapalan tiap-tiap doa beberapa lantunan pujian sholawatan dilakukan semua orang di setiap penjuru bumi. Salaman antar sesamapun dilarang oleh sebagian tim medis. Jika demikian, lalu bagaimana nasib para santri jika hanya dengan mencium tangan Kyai mereka dapat merasakan kebarokahan ilmu. Apakah sudah separah ini dampak covid 19 terhadap masyarakat? Jika pesantren-pesantren diliburkan bagaimana dengan lantunan ayat suci yang tidak lagi terdengar?
Uniknya, puluhan himbauan yang dianjurkan dari pemerintah bisa-bisanya dibuat enteng oleh masyarakatnya sendiri. Bagaimana negara dapat meminimalisir angka kematian sebab virus corona. Jika dalam kondisi seperti saat ini masyarakat Indonesia masih dilabilkan dengan debat persoalan tawakal dengan ikhtiyar. Pada jaman Nabi wabah yang menyerang di berbagai negara lebih parah dari peristiwa covid 19, saat itu islam cukup damai dalam menyikapinya. Mirisnya seseorang yang merasa paling khusyuk dalam beragama dengan mudahya mengatasnamakan Tuhan sebagai pemegang takdir manusia, dengan mengabaikan himbauan pemerintah yang dirasa melaksanakan beribadah di luar rumah itu lebih utama dari pada melaksanakan ibadah di dalam rumah. Ning Masalahe nak ndak gelem ikhtiyar iku lo, urusannya jadi aku yang punya Tuhan apa Tuhan yang punya aku.
Tidak lama sebelum ini, saya pernah menulis di blog pribadi saya tentang seruan azan dan pujian yang kerap disepelekan banyak orang. Belum banyak orang yang sadar, kemudian beberapa hari lalu viralnya seruan muazin di Kuwait yang mengganti lafad azan “ mari mengerjakan shalat” dengan  “ shalatlah di tempat kalian masing-masing” dapat menyayat hati setiap orang yang mendengarkanya. Jika hiruk pikuk pasar tidak lagi terdengar gaduh, lantunan azan di seluruh dunia tidak lagi terdengar seperti biasanya, mungkin hal ini lebih menyedihkan dari pada sindiran yang pernah dilakukan beberapa umat dalam hal mengingatkan manusia untuk menyegerakan sholat dan merapatkan barisan di masjid. Apakah harus dengan menunggu datangnya wabah kita baru menyadari bahwa islam hadir dengan membawa seluruh kedamaian? Apakah harus menunggu para muazin setiap surau setiap masjid meneteskan air mata terlebih dahulu untuk bisa menggertakkan hati kita dalam hal ibadah? Dari awal kita memang sibuk mengurusi Negara orang, sehingga lupa bahwa pada keluarga kita sendiri terdapat masalah yang lebih besar yang dapat menyebabkan datangnya wabah ini. Apakah budaya saling menyalahkan masih tetap digunakan setelah wabah ini merebak disetiap sudut Negara?  
..

Posting Komentar

1 Komentar