Tugas keenam penulisan artikel
Salah satu artikel Mojok.co pada rubrik khotbah yang saya temukan berjudul “ PONDOK PESANTREN MEMANG TEMPATNYA SANTRI NAKAL” merupakan sebuah karya dari bapak Ahmad Khadafi. Melihat judulnya muncul pada urutan rubrik khotbah, saya mulai merenung sehari semalam. Bodohnya saya kenapa nggak saya klik dan mulai membacanya, tapi saya malah menyalin link artikel tersebut dan menitipkan pada salah satu teman, kemudian lari ke WC dan mulai berpikir apa kira-kira isi dari artikel tersebut. Saya nggak tahu saat itu saya bersikap sangat bodoh atau prepare menjadi pintar. Pada intinya saya menginginkan sebuah kepuasan perut saya saat itu.
Pada artikel ini saya kembali diingatkan dengan cerita yang sama persis oleh salah satu guru saya waktu dulu. Kisah seorang kyai yang memanggil salah satu bidang keamanan, lalu dimintai nama-nama santri yang mbeling dan ending ceritanya juga sama, ternyata kyai tidak ingin menghukum para santri yang nakal tersebut. Namun malah didoakan para santri tersebut supaya tidak nakal kembali dan menjadi santri yang bermanfaat.
Pernyataan pada artikel tersebut, bahwa pondok pesantren selama ini memang dikenal sebagai tempat untuk mendidik santri agar menjadi lebih baik. Kemudian, kyai Kholil juga menyatakan bahwa pesantren merupakan tempatnya para santri nakal. Pada kalimat ini jelas menimbulkan burung-burung berterbangan di kepala, Kenapa sih kok bisa begitu?.
Bagaimana tidak bisa disebut demikian jika faktanya memang demikian. Ketika dulu masih kecil orang tua kita mengajari bahwa berbohong itu tidak baik, mencuri itu tidak baik, iri dengki sama teman itu tidak baik, dan kejahatan-kejahatan sepele yang sangat dianjurkan untuk kita cegah sejak kecil. Namun, ketika kita sudah berada dalam lingkaran lembaga yang dinaungi oleh seorang kyai atau ulama’. Maka tidak sulit jika kita sesekali melakukan kenakalan atau bisa jadi kita baru saja menanam bibit kenakalan dalam pesantren. Semakin kita tua di sebuah pesantren maka garis besar kita sedang menumpuk kenakalan yang sudah kita tanam sedari awal masuk. Sebelum saya lanjutkan semoga orang-orang yang baca ini lidahnya kesleo dalam jalan yang benar. Aamiin.
Menanam kenakalan bukan berarti kita kelak ketika sudah lulus akan mendapatkan gelar sebagai “ Lulus dengan hasil panenan kenakalan” bukan seperti itu. Kenapa jadi mikir horor banget jika pesantren disebut seperti itu. Kenakalan dalam konteks ini hanyalah sebuah penggabungan dari beberapa kisah pesantren. Weslah sak nakal-nakal’e santri nak sek sendiko dawuh kalian kyai ya nggak bakal menyesal masa depannya.
Seperti peristiwa ghosob, kata ini pastinya sudah tidak langka lagi di telinga para santri. Dari ceprot kita lahir ibu sudah ngudang kita supaya kelak kita menjadi anak yang baik, anak yang sholeh sholehah, anak yang berbakti, anak yang bermanfaat dan kebaikan-kebaikan lainnya. Pastinya keinginan untuk menghosob sangatlah nihil bagi mereka. Lalu, ketika kita sudah dalam label seorang santri pasti sangat kesulitan mengindari kejahatan terpopuler ini. Dalam angan saya, ghosob merupakan sesuatu yang aduhai nikmatnya untuk cerita anak cucu kita nanti. Bagaimana tidak menjadi kejahatan terpopuler jika saran dari pengurus saja tidak mempan. Bawa tas kreseklah, disediakan rak sandallah, anjuran tulisan DON’T GHOSOB pada setiap barang milik pribadi dengan format gede semua dikasih font bold dan underline tetap saja santri kalau sudah kelihangan jodohnya akan merebut jodoh orang.
Kemudian kejahatan sepele yang saya sering temui adalah soal perebutan barokah. Dalam hal ini saya tidak tahu yang pas menyebutnya sebagai kisah kejahatan atau kisah saru. Setiap santri seharusnya dapat mempertaruhkan apapun demi barokah seorang kyai atau guru. Peristiwa yang saya alami adalah perebutan bekas air minum yang disuguhkan untuk kyai atau untuk seorang guru, saya akan menyebut istilah guru dengan kata ustad. Ketika ustad mengucapkan “Wallahu A’lam bissowab” gerakan kaki santri sudah seperti gas motor yang maju mundur cantik. Ketika ustad melanjutkan salam, sebelum ustadnya keluar dari pintu, meja ustad sudah mencelat di pojokan dan para santri berebut mimun bekas ustad. Seketika dzikir mereka berubah menjadi “ Barokah’e ustad Fulan Barokah’e ustad Fulan” sambil mengoyak para santri lain.
Melihat bahwa satu gelas minuman yang suguhkan untuk kyai atau ustad tidak akan terbagi rata dengan jumlah para santri, akhirnya di lain waktu salah satu ustad dikejutkan oleh peristiwa yang direncanakan para santri. Santri menyediakan empat gelas sekaligus dihadapan ustad. Ada kopi, air putih, teh, dan susu. Sedangkan ustad hanya tersenyum dan mengangguk-angguk paham.
Mungkin saja dari hal ini santri dapat dilatih kecepatannya dalam hal penghosoban atau bahkan bisa dikaitkan antara keduanya. Ustad mengakhiri pengajiannya santri yang diajarnya beradu kecepatan mendapatkan barokah seorang ustad sedangkan santri yang diluar cepat-cepatan mengghosob sandal ustad. Tidak pandang sandal punya ustad atau santri, jika title sandalnya sudah memenuhi kriteria untuk dighosob pasti ketika usai mengajar ustad yang pakai sandal bertitle melly, swallow, atau sendal jepit lainnya sudah tamatlah riwayatnya. wes plempoken ngalamat nyeker tekan omah sisan.

0 Komentar