"Saya menyebutnya sebuah penyesalan, saat ini saya sedang kehilangan empat tahun saya. Selama itu saya sedang apa? melampiaskan kesenangan atau sedang memperdalam adaptasi??"
Pernah denger nggak istilah dari kata "tersesat di jalan yang benar" Lalu menurut kalian apa makna keduanya??? Krik krik terserahlah kalian mau menjabarkan bagaimana, intinya campuran dari kata-kata ini benar-benar membuat saya terombang ambing tidak jelas.
Semenjak lulus Aliyah bukan bangku perkuliahan yang saya inginkan. Merangkai setiap titik sudut gedung-gedung pun tidak sepenuhnya terlintas dalam benak saya. Apalagi menjadi salah satu dari mereka, harus lahir batin membangunnya.
Semenjak lulus Aliyah bukan bangku perkuliahan yang saya inginkan. Merangkai setiap titik sudut gedung-gedung pun tidak sepenuhnya terlintas dalam benak saya. Apalagi menjadi salah satu dari mereka, harus lahir batin membangunnya.
Jika saya termasuk dalam lingkaran mahasiswa pendidikan mungkin saja saya bener-bener sudah ngesot keluar dari kelas, bagaimana tidak, mungkin saya akan ngegas setiap pagi jika bayangan tugas udah nyempil di belek. Setiap detik,menit, jam bahkan udah doyan banget harus berpacaran sama buku, laptop, hp atau gaway lainnya. Sebenarnya bukan mahasiswa pendidikan saja sih, bisa jadi umumnya mahasiswa harusnya begitu.
Bangku perkuliahan memang mengajarkan kita menjadi sosok penerus bangsa yang baik. Aktif di bidang akademik, aktif diberbagai organisasi, banyak inovatif, kreatif, peduli sesama, mempunyai semangat yang tinggi dan hal-hal positif lainnya. Namun jika saya di tempatkan di lembaga mulia seperti ini harus berpolah kayak gimana potongan mahasiswa seperti saya??? muleh wae angon wedus
Saat ini saya sudah SAH menjadi salah satu mahasiswa komunikasi disalah satu perguruan tinggi islam. Menurut hal ini harus banget berucap Wawwwwww dengan nada panjang. Auto salah jurusan banget gitu. Ini nih yang saya maksud dalam kalimat "tersesat di jalan yang benar" . Sebenarnya dari awal saya sudah tersesat dalam hal jurusan, namun wes bacut nyemplung moso ya mentas. Akhirnya mau tidak mau harus mau, untungnya ketersesatan saya ini berada di lembaga Islam itung-itung nggak bisa ilmu komunikasi paling tidak bisa ngaji gitu haha noob.
Bagaimana tidak tersesat, pandai ambil gambar nggak, pandai molak malik kursor ya nggak, doyan ngomong saja kalau mood saya lagi baik. Lalu saya itu memperjuangkan apa di jurusan ini?(Konflik batin tingkat umum bagi anak komunikasi yang setaraf dengan saya).
Bagaimana tidak tersesat, pandai ambil gambar nggak, pandai molak malik kursor ya nggak, doyan ngomong saja kalau mood saya lagi baik. Lalu saya itu memperjuangkan apa di jurusan ini?(Konflik batin tingkat umum bagi anak komunikasi yang setaraf dengan saya).
Jika ditanya solusi, saya lebih dulu menemukan solusi. Nggak paham materinya tinggal pelajarin materi yang sudah ada, kalo belum dibahas tinggal cari di buku atau donwload materi di mbah gogle. Butuh cara lain banyak, bisa tanya kakak kelas itung-itung cari muka biar dikira adik kelas yang rajin eee jebule modus, kalau tidak sering dengerin acara-acara di radio,Tv, ataupun Pakde Youtube, ngepoin berita-berita diberbagai situs, latihan ambil gambar sama temen, latihan jadi host di depan kaca atau di kamar mandi, kalaupun dibilang anak komunikasi lama ngerjain skripsi ya tinggal memperluas jaringan saja mulai sekarang. Nah banyak kan solusinya banyak banget malah.
Namun di dalam diri saya ini bukan konflik itu yang menjadi tekanan batin. Pasca Empat tahun itu cita-cita saya sudah berganti tidak ingin lagi menjadi seorang penulis cerpen, penulis novel, jadi sutradara bahkan jadi artis. Meskipun cita-ciya saya sudah berubah, namun sampai saat ini saya tidak lepas dari nguntit persoalan sastra. Sih rodo pingin jane
Kemudian tertamparlah saya dengan pernyatan saya sendiri. Apa yang saya dapat selama enam tahun??? Glek langsung jeglek aliran darah saya udah kayak buntu banget gitu jalan hidup saya.
Kemudian tertamparlah saya dengan pernyatan saya sendiri. Apa yang saya dapat selama enam tahun??? Glek langsung jeglek aliran darah saya udah kayak buntu banget gitu jalan hidup saya.
Dari tadi bahasnya empat tahun mulu apa sih maksudnya? jadi begini, ketika akan menjadi seorang mahasiswa saya merupakan lulusan dari pesantren. Nyantri di tempat Romo KH Abdussami'Hasyim yang berada di kota Ponorogo. Pengalaman nyantri sejak Madrasah Tsanawiyah Hingga Aliyah, saya hanya mendapatkan dua tahun yang menegangkan disepanjang sejarah kehidupan saya bukan soal takziran ataupun kesalahan yang lain, namun saat itu saya baru menyadari bahwa urusan barokah itu nggak akan pernah kelihatan wujudnya, dan menyadari bahwa orang alim itu nggak bisa dinilai dalam segi pintar dalam masalah agama aja, namun hal yang paling utama adalah menjaga akhlak.
Sampai saat ini yang menjadi tekanan batin saya adalah kemana empat tahun saya????
Sampai saat ini yang menjadi tekanan batin saya adalah kemana empat tahun saya????
Nyantri enam tahun, empat tahun yang saya anggap sama sekali nggak ada tirakatnya dan dua tahun yang hanya terisi dengan penyesalan. Pantas nggak sih empat tahun itu disebut sebagai tahap adaptasi??? Lama banget ya adaptasinya itu ngapain aja hafal jumlah batu bata tembok pesantren ya nggak, ngitung jumlah lampu juga nggak , apalagi hafal nadhom alfiyah bolak balik blass terus diri saya kemana gitu.
Alasan saya tidak menginginkan bangku kuliah bukan soal malas deadline saja, namun saya memang tidak ingin pisah dari naungan pak Yai heuheu. Cita-cita saya sederhana, sesederhana rumput yang hanya bisa bergoyang ketika tertepa angin. Ingin bisa baca kitab. Sudah itu saja. Bertemunya saya dengan kumpulan orang -orang alim yang khusyuknya MasyaAllah, yang pinter baca kitab sampai ngelontok-ngelontok, apalagi manusia-manusia sang penikmat kalam Allah. Haishhhh ngewel dewe Saya ini ada apanya? ya mung bisa gandulan sama dawuh Kyai. Buat kalian yang merasa konflik hidup kalian berat, bersabarlah kalian banyak temannya belajar bangkit dari bangkit-bangkit yang kesekian kalinya kali.
Mungkin sebagian pembaca bakalan paham apa makna dari semuanya, nggak mungkin saya memaparkan semuanya. Bukan nggak mungkin tapi ya manut aturan lah tugasnya suruh bikin tulisan minimal 300 kata, meskipun lebih ya nggak usah di
lebihkan kalo soal ini. Bikin Mrebes mili terus
lebihkan kalo soal ini. Bikin Mrebes mili terus
2 Komentar
hahahah i know that bu ketuu.. good job.. 300 kata yang bermakna semamgats .. jadi penulis mungkin adalah mimpi kita.. peluang jadi penulis beneran itu.. Ada KEMUNGKINAN.. So.. semangats..
BalasHapusOjo lali gandulan sarunge Kiai
BalasHapus