Review Film Operation Wedding



Tugas Kedua Penulisan Artikel

Judul Fim : Operation Wedding
Sutradara : Monty Tiwa
Produser : Chand Parwez Servia
Pemeran : Yuki Kato (Windi), Bucek Depp (Kardi), Adipati Dolken (Rendi), Dahlia Poland (Vera), Kimberly Ryder (Lira), Sylvia Fully ( Tara), Nino Fernandez (Feri), Christ Laurent (Beni), Junior Liem (Herman).
Tanggal Rilis : 21 Februari 2013

 “Mempunyai orang tua over protektif mungkin (sedikit tapi banyak iyanya) membuat anak-anak tertekan”

Seperti kisah dari film Operatoin Wedding yang disutradarai oleh bapak Monty Tiwa mengisahkan serial film keluarga yang memberikan unsur-unsur humor di dalamnya. Bentuk rasa cinta seorang Ayah memang tak kalah besar dari pada seorang Ibu. Seorang Ayah pasti terkesan gede banget rasa sayangnya sama anak perempuan.

Mengapa kok bisa kompak bilangnya begitu?

 Beberapa peneliti mengatakan bahwa seorang Ayah memang lebih memperhatikan anak perempuan dari pada anak laki-laki. Sejak kecil anak perempuan memang diajarkan sesuatu yang halus sedangkan anak laki-laki diajarkan dengan sesuatu yang tegas. 

Jangan heran jika makhluk Tuhan yang satu ini memiliki perasaan yang sensitif. Ketika besar menjadi perempuan itu sedikit ribet kalo soal perasaan karena mereka banyak bapernya, sehingga kalo disakitin suka tiba-tiba diam. Kemudian ambil satu kota tisu, dan di dekapnya di pojokan almari sambil sekali-kali menganggukan kepala dan menyerot ingus sambil kepala mendongak ke atas.

Hati perempuan memang lembut halus kayak kain sutra, namun menurut saya  jika mereka suka dimanja-manja dari kecil haishhh masa udah berumur masih tetap mau ngadu sama ayahnya. Mbok ya kaum perempuan itu menegakkan semboyan No Maido Maido. Itung-itung jadi perempuan itu yang kalem, manut, cerdas, bisa masak,  bisa nyuci, bisa cuci piring, bisa nambal motor, ngecat rumah, benerin kompor rusak, ndak banyak komen, ndak banyak sambat tambah poin Ayu Pisan. Kalo begitu laki-laki mana yang ndak pengen?? Oleh karena itu tahap dewasa memang sangat dibutuhkan lumayanlah ngelatih hati para kaum perempuan biar sebakoh kaum laki-laki. 

Menjadi orang tua yang over protektif memang sering dibilang menyebalkan, sayang ya sayang tapi ya dibatasilah seorang anakkan ya perlu perkembangan jati diri, apalagi anak perempuan.

Dalam Film Operation Wedding ini dikisahkan cinta seorang Ayah yang mendidik keempat putrinya dengan cara yang milliter. Push up mashok, lompat tali mashok, memutar leher mashok, renang, sit up, squad jump semua mashok. Seorang Ayah pasti mempunyai impian anak-anaknya dapat menjaga dirinya masing-masing.

Mendidik dengan keras sejak dini mungkin banyak manfaatnya, karena ketika sudah besar dilukaipun mereka dapat membalas tanpa harus mewek dan berteriak minta tolong kepada orang lain, menurut Kardi hal seperti bakalan Haishh Kesuwen Ndokk.

Film ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga Laksamana Angkatan Laut yang bernama Kardi( Bucet Depp) sebagai kepala keluarga yang mendidik keempat putrinya dengan cara milliter. Pemeran utama dari Film ini dimainkan oleh Yuki Kato sebagai Windi. Anak bungsu, anak kesayangan Kardi, tomboy, dan dibenci oleh saudara-saudaranya. Film ini menyajikan drama rumahan pada umumnya hingga dapat menarik penonton untuk penasaran setiap adegannya dan menyelesaikan filmnya. Kardi sangat telaten mengajarkan setiap didikan milliter kepada empat putrinya. Disiplin dan dapat menjaga diri sendiri itu yang diharapkan oleh Kardi, bahkan sampai mereka besarpun Kardi masih tetap mengawal di setiap kegiatan mereka. 

Adegan pemaksaan dan pemberontakan dalam film ini  merupakan sesuatu yang dapat menarik perhatian penonton, karena pak Monty menyuguhkan dengan unsur humor. Masa iya ada orang lagi nyalon terus jalan-jalan di tengah-tengah mall sambil gelungan anduk masih nyangkut di kepala kan ya lucu, mau nembak ketahuan dosen, mau ngebuang Windi tapi dikasih bekal makanan dan dimasukkan di dalam kardus besar ya apa kuat nyembunyiin kardus sebesar tempat TV 40 in, orang mau bunuh diri tapi masih ngeplanning matinya ehh ujung-ujungnya ketabrak mobil box yang dikendarai Windi, Beni dan saudara-saudara. Kocak, iya kocak asli tapi pembahasannya belum sampai itu tadi. Jadi dalam Film ini Windi merupakan anak bungsu yang telat jatuh cinta dari pada saudara-saudara yang lainnya. Jatuh cinta dengan rekan SD yang bernama Rendi (Adipati Dolken)yang kisah cintanya paling nekat untuk menuju ke pelaminan. 

Adik melangkahi kakaknya, gengsi dong. Oleh karena itu lamaran Rendi dapat diterima asal ketiga kakaknya lebih dahulu menikah, pusing iya. Karena peraturan Kardi memang nyeleneh, namun para calon pasangan keempat putri Kardi tidak menyerah begitu saja mereka menjalani perintah Kardi dengan ikhlas dan sekali-kali membatin dan mengelus dada. Hingga ankhirnya mereka disetujui dengan berbagai rintangan. 

Dilihat dari kisah film ini kurang sayang bagaimana Kardi sama anak-anaknya? Sayang bagetkan ya, sampai over begitu haha, bukan begitu maksudnya setiap orang tua pasti mempunyai tujuan atas tindakannya. Termasuk Kardi, sikap Kardi merupakan cerminan paras wajah orang tua di Indonesia bahwa tingkat kekhawatiran Ayah terhadap anak perempuannya memang mencapai taraf yang paling tinggi. Apalagi Film ini menceriakan bahwa istri Kardi meninggal ketika melahirkan Windi sehingga Kardi benar-benar memperlakukan anak-anak perempuannya secara tegas dan sangat membatasi pergaulan. Tapi untuk para Orang tua dirumah apalagi sekarang banyak sekali orang tua muda, pastinya sudah paham bagaimana bisa memenangkan perasaan anak tanpa melukai dan mejadikan mereka sebagai bintang untuk kehidupan. Tidak mengekang dan membiarkan mereka memburu jati diri mereka. Ingat Pak Buk jaman,e wes bedo.

Posting Komentar

0 Komentar