Filosofi Pendidikan Anak: Ki Hadjar Dewantara

 

“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” 

-Ki Hadjar Dewantara.

 

Pembahasan Filosofi Pendidikan Anak Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya Fahruddin Faiz Filosofi Pendidikan Anak,  diletakkan pada bagian akhir setelah mengulas pandangan pendidikan anak oleh Maria Montessori, Rabindranath Tagore, dan Abdullah Nashih ‘Ulwan. Berikut ulasan filosofi pendidikan anak Ki Hadjar Dewantara:

Asas Pendidikan

Ki Hadjar, mengawali asas pendidikan anak dengan memberikan clue kebebasan dan kemerdekaan bagi anak-anak. Kemerdekaan yang dimaksudkan bukan berarti sebuah kebebasan yang leluasa, melainkan kebebasan yang sesuai dengan kodrat alam yang sesuai dengan sunatullah. Anak berkembang sesuai dengan diri sendiri, bebas ingin menjadi apa pun, akan tetapi tetap memiliki batasan agar tidak asing dan jauh dari kenyataan. Kemudian berasas kebudayaan yang berarti membentuk manusia untuk berbuat luhur dan halus yang dilandaskan pada akal budi. Kebudayaan tersebut dilanjutkan menjadi kebangsaan, yang menyadarkan kita bahwa seluruh umat manusia yang berbangsa, penting untuk berpendidikan. Asas pendidikan ini melatih anak untuk merdeka sesuai dengan kodratnya, mampu berlaku budaya sesuai kebangsaan, dan melahirkan tingkah laku yang berbudi luhur.

Visi Pendidikan Anak

Visi pendidikan anak menurut Ki Hadjar yaitu, menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, itu yang pertama. Sebagai orang dewasa yang memiliki akses penuh dengan kegiatan anak setiap harinya, perlu membimbing anak-anak agar dapat mencapai keselamatan hidup dan kebahagiaan. Kedua, mendidik anak supaya berjiwa kebangsaan dan berjiwa merdeka, memberikan motivasi penuh bahwa bangsa mereka mampu sejajar dengan bangsa lain. Ketiga, mengupayakan supaya mereka hidup sesuai dengan kodratnya, menemukan minat dan bakatnya sendiri. Keempat, memperluas sekolah dan tempat pengajaran. Visi ini ada sebab dulu sekolah yang disediakan pemerintah Belanda sangat terbatas, sehingga Ki Hadjar memberikan visi pendidikan dengan layak dan nyamannya sebuah ruang untuk menjadi tempat belajar.  

Filosofi Pendidikan Anak Ki Hadjar Dewantara

Filosofi pendidikan anak menurut Ki Hadjar Dewantara diulas secara terperinci dan mendalam pada bagian akhir dari buku ini. Dari banyaknya bagian tersebut, hanya empat bagian yang akan tertuang dalam tulisan ini.

  • Kritik Model Perintah-Hukuman

Ki Hadjar, mengkritik model pendidikan perintah dan hukuman yang dilakukan oleh pemerintah Belanda yang berupa perintah, hukuman, dan ketertiban (regering, tucht, dan orde). Model ini menurut Ki Hadjar tidak memiliki dampak positif bagi anak sebab “seseorang tidak akan bekerja jika tidak dipaksa; kalau tiada diperintah.

 Kritik ini, mengacu pada pengharapan anak sudah memiliki bekal untuk sadar diri sejak dini. Jika tidak memiliki inisiatif sendiri dan menunggu perintah untuk melakukan segala sesuatu, maka jangan bermimpi untuk merdeka. Bukan berarti hukuman dan perintah tidak boleh untuk dilakukan, akan tetapi Ki Hadjar menggaris bawahi dalam pendidikan, perintah dan hukuman bukan sebagai menu utama, akan tetapi perintah yang nantinya dapat memberikan inisiatif tersendiri bagi anak.

 Selain itu, hukuman yang langgeng dilakukan, dapat menyebabkan tumpulnya budi pekerti. Sebab dituntun, anak akan kehilangan kreativitas dalam berlaku kebenaran, berbudi, dan terasah. Mereka yang terkekang akan melakukan segala tingkah laku untuk menuju kebebasan yang tidak terarah. Imajinasi mereka akan macet sebab pikirannya yang tidak mampu berkembang.

 Dampak ketiga, menimbulkan penyakit ‘intelektualisme’ mendewakan akal. Tidak percaya segala sesuatu jika tidak ada bukti atau kenyataan. Segala hal ingin dirasionalkan, padahal apa yang dialami dalam kehidupan akan bersifat kompleks dan perlunya pemahaman akan nurani, ilusi, maupun naluri.

 Keempat, sifat individualisme (kemurkaan-diri). Model pendidikan perintah-hukuman memang berpotensi untuk melahirkan generasi yang tertib teratur dan terukur. Akan tetapi individualistik dan materialistik dapat menjadi gaya hidup baru baginya.

 Sistem model perintah hukuman, maraknya memang masih sering beriringan dengan pola kehidupan masyarakat sekitar. Sebab warisan penjajahan, dan pola asuh lingkungan terdahulu, alih-alih jangan sampai menjadikan pedoman bagi kita untuk melanjutkan sistem demikian tanpa memahami apa maksud dari tujuan model perintah hukuman tersebut.

  • Sistem Among

Sistem among berarti mendidik dengan cara momong. Orang yang momong bukan hanya sibuk untuk menanam, akan tetapi lebih sibuk untuk mengawasi menjaga merawat dan mengawasi yang dimomong. Tiga istilah among dari Ki Hadjar; momong, among, dan ngemong. Momong ditujukan pada sikap kasih sayang dengan menanamkan kebiasaan baik kepada anak. Among, memberikan contoh yang baik. Sedangkan ngemong, yaitu mengamati, merawati, mengarahkan anak supaya berkembang, bertanggung jawab, dan disiplin sesuai dengan kodratnya.

Ketiga istilah itu jika dalam bahasa Arab sama dengan;  tarbiyah, taklim, dan takdim. Tarbiyah sama dengan ngemong, taklim sama dengan momong, dan takdim sama dengan among. Begitu kiranya persamaan di atas, model pendidikan seharusnya berjalan dengan tidak memaksakan teori dengan hanya mentranfer pelajaran, melainkan juga bertanggung jawab untuk mengoptimalkan potensi, mengolahan bakat, dan memberadabkan anak.

Kemudian,

  • Tiga Pusat Pendidikan

Tiga pusat pendidikan dari filosofi pendidikan Ki Hadjar. Tri sentra tersebut yaitu, alam keluarga (pendidikan informal), alam perguruan (pendidikan formal), dan alam pergerakan pemuda (pendidikan non formal). Sebelum mengarungi kehidupan yang lebih dalam, alam keluarga berperan untuk mendidik budi pekerti dan laku sosial. Alam perguruan sebagai bentuk pencarian dan memberikan ilmu pengetahuan. Dan alam pergerakan pemuda, sebagai kemerdekaan seseorang yang berarti sebagai bentuk laku nyata dalam bertindak di tengah-tengah masyarakat. Anak harus sudah belajar dari rumah, yang kemudian dilanjutkan di sekolah yang nantinya akan berhadapan dengan kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

  • Kodrat Pendidikan Anak

Ki Hadjar membagi tiga masa dalam penemuan kodrat dalam pendidikan anak. Pertama, masa kanak-kanak (1-7 tahun), yang cocok diterapkan model pendidikan wirogo, yakni yang berhubungan dengan fisik. Memberikan pendidikan dan pembelajaran dengan contoh bukan ceramah. Kedua, masa pertumbuhan jiwa dan pikiran (usia 7-14 tahun). Masa ini, intelektual anak mulai berjalan, istilah wiromo yang berkaitan dengan irama, rotme, dinamika hidup, kondisi hukum alam;sunatullah cocok diterapkan untuk mendidik anak yakni dengan cara diajarkan berupa tuntunan, penjelasan, dan pengajaran. Ketiga, masa terbentuknya budi pekerti dan kesadaran sosial (usia 14-21 tahun) setelah memahami ritme kehidupan. Model wiroso, cocok digunakan pada fase ini, yang mana masa pertumbuhan anak mulai terbentukya budi pekerti dan kesadaran sosial, sehingga anak sudah mampu bergaul dengan orang lain sebagai bukti pengalaman lahir dan batin.

Dari tiga fase tersebut yang nantinya menjadikan inspirasi bagi kita dalam membaca ing ngarso sung tuladho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Di usia awal anak butuh ing ngarso sung tulodho (membutuhkan contoh dan tauladan). Usia pertengahan membutuhkan ing madyo mangun karso (membangkitkan kreativitas dan menambah wawasan). Pada fase awal dewasa anak sudah memiliki bekal cukup sebagai wawasan untuk menjalani kehidupan secara mandiri tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan sambil memberdayakan).

 

Keberhasilan Pendidikan: “ Hidup Merdeka”

Ki Hadjar, mengibaratkan keberhasilan pendidikan sebagai bentuk kemerdekaan. Pertama, tetep-mantep-antep (punya pendirian, teguh pendirian, dan berkualitas). Kedua, ngandel-kendel-kandel-bandel (berprinsip,berani, luas keilmuannya, tahan uji). Ketiga, neng-ning-nung-nang (neng; meneng; tentram lahir batin, ning;wening; bening;jernih pikiran, nung;hanung; kuat sentosa, nang;menang;mendapat wewenang, hak kuasa sebagai hasil usaha sungguh-sungguh). Puncak dari pendidikan Ki Hadjar Dewantara yakni menjadi dan melahirkan manusia yang merdeka; manusia-manusia yang tetap, mantap, antap, ngandel, kendel, kandel, bandel, serta meneng, wening, hanung, dan menang.

Semoga kita semua, anak-anak, adik-adik, kerabat, keluarga, sanak saudara kita semua diberikan kemudahan dalam mempelajari tingkah laku kemanusiaan. Di kelilingi dengan orang-orang yang berbudi luhur dan terarah, memberikan pelajaran positif baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki pedoman kuat serta tidak mudah putus asa.

 Selamat Hari Pendidikan Nasional 

02 Mei 2025


Sumber :

Faiz, Fahruddin. (2024). Filosofi Pendidikan Anak. Yogyakarta: MJS Press.


Posting Komentar

0 Komentar