Kisah nyantri: Aku, bapak, dan sepeda motornya

 


 Ada yang unik untuk aku kenang mengenai hari santri, kisah aku bersama bapak dengan motornya

Sembilan tahun yang lalu, kiprah laki-laki paruh baya membawaku menyusuri jalanan asing yang belum pernah kami jajah. Aku tidak ingat bagaimana raut wajahnya kecuali rasa tenang yang ia salurkan di hari itu. Aku melingkarkan pegangan dilingkar perut buncitnya, sambil mendengarkan tipis nasihat-nasihat bapak yang ikut berterbangan dengan arah laju angin.

Sambil membayangkan cerita Dajjal yang pernah ustadz TPA kisahkan. Tiba-tiba motor bapak mendarat pada halaman gedung berlantai tiga di balik gerbang tinggi. Di balkon lantai tiga terjejer rapi para santri putra sembari beradu suara ketika melihat wajah-wajah polos sembunyi di balik badan walinya. Aku dan bapak menjumpai rumah- rumah yang berdiri di tengah-tengah gedung yang menjulang tinggi. Saat itu khayalku akan menebus kehidupan satu minggu ke depan. Tembang jawa Gusti Kanjeng Nabi yang diajarkan bapak ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar, tiba-tiba menyeruak menggema di setiap ruangan kosong di pesantren. Mengingkatkan bahwa aku tidak memiliki banyak waktu dengan kasih bapak dan motornya.

Beberapa tahun setelah itu, aku dan bapak berkisah menyusuri jalanan dengan motornya. Menyelami lubang di dalamnya. Waktu itu hari kamis tahun 2014, pasca diniyah sore bapak menyambutku di depan aula putri. Dengan membalas mringis akan sakitnya kaki kananku, bapak menenangkanku seolah-olah tidak akan sakit ketika sudah berhadapan dengan dokter. Kami pergi ke kantor pengurus, bersama para wali santri yang lain bapak ikut berbaris meminta ijin supaya aku boleh dibawa pulang.

Di atas sana langit mendung, Hujan.  Sedangkan aku dan bapak masih melanjutkan perjalanan untuk pulang. Hujan memang tidak terlalu deras namun cukup membuat lampu motor bapak yang hampir mati, semakin redup jika berlawanan dengan lampu kendaraan lain. Dari pada tidak mampu sampai rumah mending kami turun dan menuntun motor bersama melewati genangan jalanan yang kemungkinan menyebabkan motor bapak mati di pertengahan jalan. Aku turun, mengekor di belakang bapak  jas hujan yang di sediakan bapak hanya cukup untuk membalut badanku, tidak sampai bawah. sambil memegang pisang goreng dan melahapnya, aku riang ikut bapak meneggelamkan separuh badan pada genangan air hujan.

Satu tahun setelah itu, aku baru menyadari apa makna santri yang sedang aku kenakan ini. Jika memang belum pantas aku menyandangnya, setidaknya aku bangga dan beruntung terhadap jasa bapak dan keralaan ibu saat itu.   


Posting Komentar

0 Komentar