Sejak sore langit memang sudah tampak sendunya, harapan kecil melayang disetiap orang yang mematung
memandangi bintik-bintik hujan yang lama-lama memenuhi jalanan depan
pesantren. Dari surau terdekat kumandang azan terdengar remang sedangakan suara air hujan kian menggema.
Usai sholat maghrib hujan deras mulai mengguyur daerah Kartasura. Harapan para santri, malam ini ngaji akan diliburkan dan diganti
dengan kegiatan dzikiran. Ternyata harapan kecil itu dirapal berjama’ah oleh
santri-santri usai melaksanakan sholat
Isya’ di Aula. Sembari menunggu kabar dari pengurus putra sebagian santri putri
ada yang menyibukkan diri dengan sholat sunah, menderes hafalan, ataupun hanya
sekedar geletakkan di atas sajadahnya.
Hujan semakin terdengar ricuh, percikan airnya membasahi setiap sudut ruang yang terbuka ditambah angin malam yang
menyayat setiap sendi yang merasakan. Lampu jalanan sedikit redup diselimuti
tetesan hujan yang merata menghapus pencahayaanya. Di sudut ruang rusuh sautan suara jangkrik
terdengar lebih nyaring dari pada gemercik air hujan yang mengalir lewat paralon dari atap pesantren. Kesunyian saat itu pecah. Tiba-tiba saja, salah satu santri putri
menyelutak pengeras suara dan sesegera melantunkan sholawat pemanggil massa di
pesantren tersebut.
“Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wadawaa-ihaa” pujianya sambil nyengir. Semua yang mendengar sholawat thib itu langsung menoleh kesumber suara. Dari arah lain salah satu pengurus berlari terkekeh
sambil mengangkat sarung lalu menarik mik suara. Aksi tarik menarik mik pun
terjadi, sisa santri yang masih berada di Aula tertawa menyaingi derasnya air
hujan yang turun.
“ojok ngundang masa sek
mbak,,,nunggu dawuh Bapak” pinta salah satu pengurus dengan membenarkan mik kabel yang sudah terlanjur terurai
panjang.
“Dzikiran wae lah udan lo mosok ngaji” pinta santri lainnya.
Sambil menggulung kabel mbak pengurus diam-diam meng-aamini do’a do’a para santri, namun
keputusan dari pengurus putra masih mereka nanti. Waktu ngaji jelas molornya, belum ada kabar
dari pihak putra, belum dapat dawuhan dari Bapak Kyai, tentunya suara bel belum
terdengar nyaring. Sebagian santri sudah menguap sambil menompang dagu alih-alih
dengan kondisi mata yang sudah tidak bisa dikondisikan Pak Yai mendatangkan
kabar gembira untuk santri. Hanya kabar libur ngaji saja, bungahnya
santri ndak ada yang nandingi namun pinta mereka saat itu langsung
lenyap seketika.
Setengah jam setelah itu, bunyi
yang paling memekikan telinga kembali terdengar. Tidak cukup sekali untuk
mendengarnya bahkan dalam satu kegiatan saja, bisa mencapai 10 kali pekikan
suara itu nyaring sampai rumah-rumah warga. Untungnya, para santri sudah sangat
terbiasa, mendengar bel berbunyi. Disetiap pondok pesantren memang selalu ada
alarm untuk menyegerakan kegiatan. Berangkat ngaji dibel, waktunya sholat
berjama’ah dibel, saatnya dzikiran dibel sampai-sampai mayoran pun santri perlu
dibel agar semua dapat turun dan kebagian semua.
Bel pesantren berbunyi, satu kali dua kali hingga santri yang awalnya
geletakan di Aula, yang berada di kamar mandi atau pun yang sedang beraktivitas
lainnya langsung tercengang, menanti kabar apa yang dibawa pengurus untuk para
santri. Bel masih terus berbuyi, sungguh suara itu menyebalkan untuk didengar,
tidak lama setelah bunyi bel pesantren yang kesekian kalinya kabarpun
tersampaikan.
“Mbak-mbak ayoo segera berangakat ngaji,,,” teriak pengurus disusul dengan paduan suara tidak terima dari sebagian santri.
“Kring…kring….Kring”
Hujan memang semakin deras ditambah lagi suara bel pesantren yang
tidak berhenti berbunyi mewakili suara pengurus untuk mengondisikan para
santri. Sungguh suasana malam itu sangat mendukung setiap individu untuk
menyeduh secangkir kopi ataupun menikmati hidangan mie instan.
Meskipun hujan semakin deras, santri tetap nderek dawuh Kyai. Tidak
ada yang lebih indah dari pada menyaksikan para santri berjuang menembus air
hujan hanya untuk ngaji. Keresahan atas kabar tadi tidak mereka hiraukan
kembali. Mungkin tekad dan tujuan serta bayangan bapak ibu mereka secara
perlahan merasuk dalam diri sehingga menimbulkan kobaran
semangat untuk berangkat di majlisnya masing-masing. Atau tidak mereka bersemangat karena ingat pesan senior yang dilayangkan pada grub WhatsApp sebelum berangkat ngaji.
"Walau hujan aku tetap pergi ngaji, walau hujan kamu tetap harus pergi ngaji, walau hujan ayo kita tetap pergi ngaji, karena hujan adalah rahmat dari Tuhan"
" Karena setiap tetes hujan merupakan malaikat yang sedang berjatuhan di bumi oleh karena itu jangan ngaji takut nginjak malaikat hahaha"
Guyonan seperti itu lumrah terjadi para santri, hanya untuk sekedar menghibur para santri supaya cepat berangkat ngaji. Dengan riang setiap ruang
kelas menggemakan nada klasik, para santri bersemangat mengalunkan nadhoman yang suaranya bersaingan dengan air hujan yang terbentur kanopi masjid. Malam
semakin memikat, gemercik hujan berhasil membanjiri pinggiran kelas sehingga
sebagian santri rela sarung, jilbab, bahkan kitab mereka terkena tetesan air
hujan.
Ngaji tetap dilanjut, kelas yang berada diserambi masjid bagian
tengah membentuk kelas ngaji sebagai
ruang diskusi. Mungkin hampir sama sistemnya dengan bahtsul masail hanya banyak
berbedanya pada titik penyampaian. Seharusnya forum tersebut dapat dibentuk
persis seperti bahtsul masail pada umumnya. Salah satu menjadi moderator,
ketika ada suatu permasalahan santri lainnya menggugat dengan argumen dari sisi
tafsir, hadis, ushul fiqh atau keilmuan yang lainnya. Bahtsul masail merupakan
salah satu tradisi pesantren dalam merespon persoalan yang membutuhkan jawaban hukum.
Namun dalam ranah pesantren forum seperti ini gunakan untuk belajar para santri
sehingga demonstrasi lelucon khas santri muncul saat diskusi sedang
berlangsung.
Ustad menjatuhkan empat gulungan kertas undian, menandakan
nama-nama itulah yang akan memimpin diskusi malam itu. Setiap santri yang
menyaksikan berkomat-kamit sambil memincingkan sudut matanya menanti deretan
nama-nama yang akan dipanggil untuk maju. Satu santri putra dan tiga santri
putri. Nama-nama yang dipanggil seketika mengencangkan raut muka sambil
celingukan memastikan bahwa namaya benar-benar tertera dalam lembaran kertas
terebut.
Saat diskusi akan dimulai para santri mulai sibuk membuka kitab Qowaidul
Fiqhyah, sedangkan yang jatah maju menyeritkan dahi sambil berfikir keras
bagaimana mereka akan mengulas bab ini. Salam pun diawali salah satu dari
mereka dan dilanjutkan pembacaan kitab mulai dari qaidah kedua.
“Qaidah tsani “ Al- Yaqiinu La Yuzalu Bi Syak” pada kitab Faroidul
Baghiyah dalam ilmu Qowaidul Fiqhyah”
“ Al Qaidatu tsaniyatu utawi qaidah kang kaping pindo Al-Yaqiinu
la yuzalul bi syak,,,Alyaqiinu yakin La yuzalu ora biso
ngilangi Bi syak kelawan mamang” jelas salah satu santri yang ada di depan,
pembacaan kitab masih tetap berlanjut hingga berhenti pada syarah penjelasan
nadhom bait kedua pada qaidah ini.
Bersambung,,,,,
by : Puji Lestari

0 Komentar